PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) resmi mengumumkan rencana pembelian kembali saham dengan anggaran maksimal Rp 100 miliar, seluruhnya bersumber dari kas internal perusahaan.
Keterbukaan informasi yang dirilis Jumat (29/5/2026) itu mengonfirmasi bahwa aksi korporasi ini tidak akan mengganggu stabilitas pendapatan perusahaan. "Sumber dana yang akan digunakan untuk pembelian kembali saham berasal dari kas internal," kata Head of Legal & Corporate Secretary ERAA, Amelia Allen dalam dokumen keterbukaan informasi tersebut.
Konsekuensi finansialnya terukur. Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2025, aset ERAA akan terkoreksi tipis menjadi Rp 28,7 triliun dari posisi Rp 28,8 triliun. Ekuitas ikut menyusut dari Rp 10,17 triliun menjadi Rp 10,07 triliun. Koreksi sekitar Rp 100 miliar di neraca ekuitas, agaknya bukan angka yang akan membuat kreditur kehilangan tidur.
Struktur permodalan ERAA saat ini dinilai cukup kokoh untuk membiayai ekspansi bisnis sekaligus menanggung aksi korporasi ini. Operasional diklaim tetap berjalan normal, dampak finansial tidak material.
Buyback memang ibarat pedang bermata dua. Sinyal positif yang dikirim manajemen ke pasar jelas: harga saham kami murah, dan kami cukup percaya diri untuk membelinya kembali. Tapi kas yang seharusnya bisa diputar untuk ekspansi kini dialihkan ke pasar sekunder. Pilihan yang valid, asal timing-nya tepat.
ERAA bergerak di sektor distribusi dan ritel produk teknologi konsumen, termasuk smartphone. Saham perseroan dalam beberapa bulan terakhir bergerak fluktuatif, dihajar dinamika daya beli yang belum sepenuhnya pulih plus pergeseran tren perangkat di pasar domestik. Buyback dari kas internal tanpa tekanan utang, setidaknya, adalah sinyal likuiditas yang sehat.
Pertanyaannya: apakah Rp 100 miliar cukup untuk menggerakkan harga secara berarti pada emiten dengan kapitalisasi pasar ERAA? Jawabannya baru terlihat setelah eksekusi dimulai.