JUMAT, 16 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  ERAA Gelontorkan Rp 100 Miliar untuk Buyback, Mula...

Finansial

ERAA Gelontorkan Rp 100 Miliar untuk Buyback, Mulai Juni 2026

PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) resmi mengumumkan program buyback saham senilai maksimal Rp 100 miliar untuk periode tiga bulan, didanai dari kas internal dengan penunjukan dua sekuritas sebagai pelaksana.

Sepanjang Mei, saham ERAA bergerak lesu. Penutupan Jumat, 29 Mei 2026, harga PT Erajaya Swasembada Tbk tercatat di Rp 374 per lembar, terkoreksi 0,53% dengan nilai transaksi harian Rp 6,2 miliar. Bisa jadi itulah salah satu alasan manajemen memutuskan sudah waktunya turun tangan.

Perseroan resmi mengumumkan program pembelian kembali saham dengan anggaran maksimal Rp 100 miliar, sudah mencakup biaya perantara perdagangan efek dan biaya terkait lainnya. Periode pelaksanaan dibuka 2 Juni hingga 2 September 2026, tiga bulan penuh lewat mekanisme Bursa Efek Indonesia. Jumlah lembar saham yang bisa diserap kembali paling banyak 797,5 juta lembar, mewakili 5% dari total modal disetor.

Dua broker ditunjuk untuk mengeksekusi aksi ini: PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk dan PT Ciptadana Sekuritas Asia. Semua pendanaan dari kas internal. Tanpa utang baru.

"Pembelian saham kembali perseroan akan dilakukan pada harga yang dianggap baik dan wajar oleh Direksi Perseroan, sesuai dengan regulasi yang berlaku," demikian pernyataan manajemen dalam keterbukaan informasi kepada BEI.

Landasan regulasinya mengacu pada POJK Nomor 13 Tahun 2023 dan Surat Edaran OJK Nomor S-10/D.04/2026 tentang Kebijakan Pelaksanaan Pembelian Kembali Saham dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi Signifikan. Bukan sekadar aksi korporasi rutin. Ini buyback yang secara eksplisit didesain sebagai respons terhadap pasar yang sedang dihajar volatilitas.

ERAA bukan pemain baru dalam urusan ini. Hingga 27 April 2026, perseroan mencatat akumulasi buyback saham sebesar 365.317.422 lembar, termasuk 224.554.300 lembar yang diserap dalam periode terakhir hingga tanggal tersebut. Program yang baru diumumkan ini babak lanjutannya.

Dari sisi keuangan, Head of Legal & Corporate Secretary Amelia Allen menegaskan operasional perusahaan tidak akan terganggu. Kalau anggaran dipakai penuh hingga batas maksimum, aset ERAA akan tergerus dari Rp 28,8 triliun menjadi Rp 28,7 triliun berdasarkan posisi per 31 Desember 2025. Ekuitas ikut amblas, dari Rp 10,17 triliun ke Rp 10,07 triliun. Koreksi yang relatif kecil dibanding total neraca, tapi tetap layak dipotret utuh.

Manajemen optimistis struktur permodalan yang ada, ditambah arus kas yang mereka sebut "cukup dan memadai", sanggup menanggung beban buyback sekaligus menjaga roda bisnis tetap berputar. Setidaknya itu klaim manajemen. Kinerja kuartal-kuartal ke depan yang akan membuktikannya.

Bagi investor ritel yang sudah nyangkut di ERAA, program ini setidaknya memberi sinyal bahwa manajemen menilai harga saham saat ini di bawah nilai wajarnya. Apakah pasar merespons sebagaimana diharapkan? Itu soal lain.