JUMAT, 16 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Epic Games Store Baru Diklaim 46% Lebih Cepat dari...

Tekno

Epic Games Store Baru Diklaim 46% Lebih Cepat dari Steam, Dibangun Pakai AI

Epic Games merilis versi preview launcher yang dibangun ulang dari nol, mengklaim kecepatan akses toko 46% lebih tinggi dari Steam dan startup time yang dipangkas setengahnya, dengan sentuhan "vibe coding" berbasis AI.

Epic Games Launcher for Windows - Download it from Uptodown for free

Epic Games akhirnya angkat bicara soal amunisi terbarunya untuk bersaing di pasar distribusi game PC: launcher Epic Games Store yang dibangun ulang sepenuhnya, kini masuk fase preview untuk Windows dan Mac, plus dukungan Linux untuk pertama kalinya.

Angka yang dilempar Epic cukup menggiurkan. Dalam kondisi cold start, klien baru ini diklaim mampu menembus halaman toko 46% lebih cepat dibandingkan Steam. Waktu startup-nya sendiri dipangkas hingga setengah dari versi lama. Bukan angka kecil, meski klaim ini masih perlu dibuktikan secara independen.

Epic menyebut peningkatan performa tersebut telah diverifikasi vendor eksternal. Tapi PC Gamer belum melakukan pengujian mandiri saat pengumuman keluar, sehingga angka 46% itu agaknya masih menjadi klaim sepihak yang menunggu konfirmasi. Wajar kalau sebagian gamer menyambut dengan satu alis terangkat.

Yang menarik justru ada di balik dapur teknisnya. General Manager Epic Games Store, Martin Keely, mengungkapkan kepada PC Gamer bahwa timnya membangun seluruh cangkang toko dan launcher ini dari nol, sama sekali tidak menyentuh kode lama. Arsitektur baru, tech stack berbeda, dan yang paling mencolok: perangkat AI digunakan secara aktif untuk menulis sekaligus meninjau fitur-fitur baru dalam proses pengembangannya.

Epic secara terbuka membingkai ini sebagai proyek "AI-assisted development". Bukan kebetulan, ini sejalan dengan dorongan besar CEO Tim Sweeney menuju akselerasi AI di seluruh lini perusahaan. Di industri ini, istilah yang beredar adalah "vibe coding", pendekatan di mana developer berkolaborasi erat dengan AI untuk menghasilkan kode, bukan sekadar autocomplete. Hasilnya? Launcher yang diklaim jauh lebih responsif.

Secara fitur, versi preview hadir dengan tampilan library yang didesain ulang. Ada juga kemampuan menambahkan shortcut untuk game yang diinstal dari Steam maupun klien lain. Langkah terakhir ini terasa seperti sinyal bahwa Epic tidak lagi segan mengakui eksistensi kompetitor, sekaligus mencoba menjadi satu-satunya hub koleksi game pengguna.

Satu lagi yang patut dicermati: Epic tengah memperkuat Easy Anti-Cheat untuk mendukung Fortnite di Linux, sekaligus membantu game multiplayer lain melakukan transisi serupa. Kapan rampung, belum ada jadwal resmi.

Versi preview sudah bisa diunduh langsung di situs launcher Epic. Adopsi pengguna diharapkan tumbuh bertahap seiring feedback yang masuk dan bug yang dibereskan. Pertanyaannya sederhana, kalau boleh jujur: cukupkah kecepatan loading untuk menggoyahkan loyalitas pengguna Steam yang sudah bertahun-tahun nyaman di platform Valve?