MINGGU, 4 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Emas Tergelincir, Analis Bidik Target USD 4.304

Bisnis

Emas Tergelincir, Analis Bidik Target USD 4.304

Harga emas dunia masih dalam tekanan bearish pada perdagangan Rabu, 20 Mei 2026, dengan analis memproyeksi pelemahan lanjutan hingga area USD 4.304 berdasarkan sinyal teknikal dan ketidakpastian kebijakan moneter The Fed.

Emas Kehilangan Daya Tarik, Diproyeksi Turun ke USD4.304

Rabu ini, emas nyaris tidak punya ruang untuk napas. Harga XAU/USD bergerak lesu setelah dua tekanan datang hampir bersamaan: ketegangan geopolitik Iran yang ternyata tidak cukup kuat mengangkat selera safe haven, plus dolar AS yang tetap kokoh karena The Fed belum juga memberi sinyal kapan suku bunga bakal dipangkas.

Dari sisi teknikal, gambaran untuk pemegang posisi beli tidak menggembirakan. Dupoin Futures mencatat harga emas sudah jebol area support kritis di kisaran USD 4.604 hingga USD 4.538. Bukan sekadar koreksi. Penembusan itu mengubah zona tersebut menjadi resistance baru, dan setiap reli harga kini lebih besar kemungkinannya dijadikan momentum jual oleh pelaku pasar.

"Struktur pergerakan harga yang terbentuk juga memperlihatkan pola lower high dan lower low, yang merupakan ciri khas dari tren bearish yang kuat," kata Geraldo Kofit, analis Dupoin Futures, dalam keterangan tertulisnya. Bagi sebagian trader, pola seperti ini sudah cukup sebagai lampu merah.

Target berikutnya ada di USD 4.304. Angka itu dihitung dari ekstensi Fibonacci Retracement 161,8 persen secondary trend, sekaligus berhimpit dengan harmonic level yang dianggap sebagai titik support potensial. Kalau data ini bisa dipercaya, jarak dari posisi harga saat ini ke target tersebut cukup jauh, dan pertanyaannya tinggal seberapa cepat tekanan jual sanggup membawa harga ke sana.

Fundamental belum banyak membantu. Selama The Fed belum memberi kepastian arah, dolar cenderung bertahan kuat dan emas kesulitan menemukan pijakan. Sentimen Iran sempat memantik sekilas permintaan safe haven, tapi agaknya tidak cukup untuk membalik tren yang sudah terlanjur terbentuk.

Bagi investor ritel yang sudah masuk di level tinggi, kondisi ini patut disimak baik-baik. Setiap reli jangka pendek, setidaknya itu proyeksi teknikal saat ini, lebih rentan berakhir sebagai jebakan ketimbang peluang.