SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Emas Rebound, Tapi Spread Menganga: Investor Ritel...

Finansial

Emas Rebound, Tapi Spread Menganga: Investor Ritel Perlu Hitung Ulang

Harga emas dunia mulai pulih pada akhir Mei 2026, namun spread antara harga jual dan buyback emas fisik domestik yang masih menganga lebar membuat investor ritel belum tentu langsung cuan.

Harga Emas Dunia Rebound 29 Mei 2026 Investor Ritel Perlu Selektif

Harga emas spot ditutup menguat pada Jumat (29/5), bergerak di kisaran US$ 4.538 hingga US$ 4.561 per ons troi, naik antara 0,64% hingga 0,96% secara harian. Pelemahan dolar AS dan perburuan aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik menjadi pendorongnya. Tapi jangan buru-buru senang dulu.

Dalam sebulan terakhir, emas masih tercatat terkoreksi sekitar 2,1% hingga 2,2%. Rebound sehari ini belum cukup menutup luka.

Yang lebih menggigit buat investor ritel adalah soal spread. Emas batangan bersertifikat ANTAM hari ini dijual Rp 2.774.000 per gram, harga buyback-nya Rp 2.579.000. Selisihnya Rp 195.000 per gram, atau sekitar 7,03%. Bukan angka kecil. Emas Galeri 24 sedikit lebih ramah dengan spread 6,20%, sedangkan emas UBS ukuran 1 gram mencatat spread tertinggi, hampir 8,89%.

Artinya, seseorang yang membeli emas fisik di akhir April lalu dan menjualnya hari ini kemungkinan masih nyangkut, meski harga spot global sudah bergerak naik. "Investor yang membeli emas pada akhir April 2026 lalu menjualnya hari ini kemungkinan masih mengalami kerugian meskipun harga emas dunia sebenarnya sudah naik," ujar Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet kepada Kontan, Jumat (29/5/2026).

Ini bukan soal nasib buruk. Ini soal matematika spread yang memang tidak ramah untuk trading jangka pendek. Yusuf menegaskan bahwa emas batangan lebih tepat difungsikan sebagai instrumen penyimpan nilai jangka panjang, bukan alat untuk mengejar momentum sesaat. Investor yang masuk sejak Mei 2025, saat harga masih parkir di kisaran Rp 1,9 juta per gram, kini sudah mengantongi potensi gain sekitar 35% dihitung dari nilai buyback terkini. Itulah bedanya horizon investasi.

Guna menghadapi fluktuasi, Yusuf merekomendasikan metode dollar cost averaging atau DCA: membeli secara konsisten dan bertahap tanpa bergantung pada market timing. Pendekatan ini efektif menjaga rata-rata harga beli tetap wajar, sekaligus menghindarkan investor dari jebakan panik saat harga bergejolak. Pertanyaannya, berapa banyak investor ritel yang punya disiplin untuk benar-benar menjalankannya?

Alternatif emas digital kian merebut perhatian, khususnya di kalangan investor muda yang baru membangun portofolio. Spread-nya jauh lebih tipis, di kisaran 2% hingga 3%, dengan fleksibilitas transaksi yang lebih tinggi dan modal awal yang sangat rendah. "Dengan dana Rp 10.000 pun investor sudah bisa mulai membeli emas," kata Yusuf.

Kemudahan akses ini, agaknya, tetap harus diimbangi kehati-hatian. Yusuf mengingatkan agar investor memastikan platform emas digital pilihannya sudah mengantongi izin resmi dari Bappebti dan memiliki kustodian yang kredibel. Pasar ini tumbuh pesat, dan tidak semua pemain di dalamnya layak dipercaya, kalau data pertumbuhan platform belakangan ini bisa dijadikan cermin.

Yusuf sendiri tidak membenturkan keduanya. Dalam pandangannya, emas digital dan fisik bisa saling melengkapi: sebagian untuk akumulasi rutin lewat platform digital, sebagian lagi disimpan dalam bentuk fisik sebagai benteng terakhir saat risiko sistemik benar-benar datang.

Bagi investor yang sudah telanjur masuk di harga tinggi, pertanyaannya bukan lagi kapan menjual. Sudah punya rencana jangka panjang, atau cuma ikut-ikutan saat emas sedang ramai diperbincangkan?