SENIN, 12 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Emas Menanjak Jelang NFP, Dolar Tertekan Data Tena...

Finansial

Emas Menanjak Jelang NFP, Dolar Tertekan Data Tenaga Kerja

Harga emas menguat menjelang rilis Non-Farm Payrolls malam ini setelah data ADP mengecewakan, meski penguatan masih terbatas di tengah sikap hawkish The Fed.

Gold Price and Nonfarm Payrolls: Why the Fed Is Trapped

Harga emas bergerak lebih tinggi pada Kamis menjelang sesi Eropa, memanfaatkan celah dari pelemahan tipis dolar AS yang mulai terhimpit ekspektasi data tenaga kerja yang kurang menggembirakan.

Pemicunya jelas: laporan ADP menunjukkan penambahan tenaga kerja sektor swasta AS hanya 98 ribu pada Juni, meleset dari ekspektasi pasar di 113 ribu dan turun dari realisasi Mei sebesar 122 ribu. Angka yang bikin sebagian trader mengernyitkan dahi, karena ADP kerap jadi petunjuk awal sebelum NFP keluar. Cukup untuk bikin pasar gelisah.

NFP malam ini jadi taruhan besar. Kalau angkanya kembali mengecewakan, tekanan terhadap dolar bisa meningkat dan membuka ruang reli emas lebih lanjut. Sebaliknya, NFP yang kuat akan mempertebal argumen The Fed untuk tetap hawkish, dan emas bisa kehilangan momentum.

Sinyal dari sisi manufaktur juga tidak terlalu membantu dolar. Indeks PMI Manufaktur ISM tergerus ke 53,3 dari sebelumnya 54,0, sementara Indeks Harga yang Dibayar ambles ke 73 dari 82,1, mengisyaratkan tekanan inflasi yang mulai kendur. Satu data yang luput dari draft awal: Indeks Ketenagakerjaan naik tipis ke 49,7 dari 48,6, tapi masih di bawah ambang 50 yang menandakan kontraksi. Penurunan harga minyak mentah dalam beberapa pekan terakhir turut meredam kekhawatiran inflasi jangka pendek, yang pada gilirannya menggerus imbal hasil dolar.

Penguatan emas, agaknya, masih akan terbatas. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan September masih sekitar 64%, dengan probabilitas mendekati 85% untuk kenaikan sebelum tutup tahun. Bukan sinyal yang ramah buat logam kuning.

Ketua The Fed Kevin Warsh memperkuat sikap itu: komitmen menjaga target inflasi 2% dikunci rapat, tanpa angin segar soal pelonggaran kebijakan dalam waktu dekat, meski tekanan politik untuk memangkas suku bunga terus menguat. Sejumlah pejabat lainnya berpendirian serupa. Suku bunga tinggi, kata mereka, barangkali masih diperlukan sampai inflasi benar-benar jinak.

Dilema klasik emas. Secara fundamental, perlambatan tenaga kerja dan meredanya inflasi seharusnya jadi amunisi. Tapi selama The Fed belum bergeser dari posisi hawkishnya, dolar masih punya penyangga kuat dari ekspektasi suku bunga, ditambah permintaan safe haven dari ketidakpastian geopolitik yang belum sepenuhnya padam.

Hasil NFP malam ini, entah kebetulan atau tidak, akan menjadi ujian pertama: apakah narasi "perlambatan pasar kerja AS" ini cukup kuat untuk mengubah arah dolar secara lebih berarti.