SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Emas Dua Hari Beruntun Dihajar, HPE Kemendag Ikut...

Bisnis

Emas Dua Hari Beruntun Dihajar, HPE Kemendag Ikut Tergerus

Harga emas dunia melemah dua hari beruntun di tengah lonjakan inflasi AS yang memupus harapan pemangkasan suku bunga The Fed. Di dalam negeri, Kemendag merespons dengan memangkas harga patokan ekspor dan harga referensi emas untuk periode kedua Mei 2026.

Penguatan dolar AS picu penurunan harga referensi emas - ANTARA News Kalimantan Selatan

Dua hari berturut-turut. Emas tidak bisa bangkit.

Harga emas spot di New York terkoreksi 0,6% ke US$4.686,35 per ons troi pada Rabu (13/5), meneruskan pelemahan dari sesi sebelumnya. Kontrak berjangka emas AS memang ditutup naik tipis 0,4% ke US$4.706,70, tapi itu lebih terasa seperti pantulan teknis ketimbang sinyal pemulihan sungguhan.

Biang keroknya jelas: inflasi AS yang, jujur saja, belum mau jinak. Data producer price index April melompat lebih tinggi dari perkiraan analis, mencatat kenaikan terbesar sejak awal 2022. Beberapa jam kemudian, data inflasi konsumen menyusul dengan nada serupa, eh, maksudnya senada: laju tahunan membukukan lonjakan terbesar dalam tiga tahun terakhir. Kombinasi dua rilis data ini langsung membabat ekspektasi pemangkasan suku bunga yang selama ini jadi bahan bakar reli emas.

"Inflasi masih cukup lengket sehingga ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama semakin kuat. Itu yang menekan harga emas dalam dua hari terakhir," kata Peter Grant, Vice President sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals.

The Fed bulan lalu sudah mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%. Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar kini mulai menghapus skenario pemangkasan tahun ini dari kalkulasi mereka. Bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil, lingkungan suku bunga tinggi ini ibarat angin kepala yang tak kunjung reda.

Tekanan tidak datang dari satu arah. India, konsumen logam mulia terbesar kedua di dunia, menaikkan tarif impor emas dan perak dari 6% menjadi 15%. Kebijakan itu dirancang untuk meredam belanja logam mulia dari luar negeri sekaligus menjaga cadangan devisa. "Kabar tentang kenaikan bea impor di India telah menimbulkan kekhawatiran terkait permintaan dan dapat menjadi hambatan jangka panjang," ujar Grant. Pasar, agaknya, belum sepenuhnya mencerna implikasi ini.

Pelaku pasar juga mengamati pertemuan Trump dengan Xi Jinping di Beijing. Trump datang dengan agenda ganda: menjaga gencatan dagang yang masih rapuh antara dua ekonomi terbesar dunia sambil mengejar dukungan publik domestik yang tergerus akibat perang Iran. Pertemuan itu berpotensi menggerakkan selera risiko pasar global, yang pada gilirannya menentukan seberapa jauh dolar AS bisa menguat lebih lanjut.

Efeknya sudah terasa di Jakarta. Kementerian Perdagangan menetapkan harga patokan ekspor emas untuk periode kedua Mei 2026 di angka US$150.555,29 per kilogram, turun 1,72% dari US$153.194,87 per kilogram periode sebelumnya. Harga referensi emas pun dipangkas menjadi US$4.682,80 per troy ounce dari US$4.764,90.

"Penurunan HPE dan HR emas dipengaruhi oleh penguatan dolar AS. Kemudian, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, yang meningkatkan daya tarik aset berbunga dibandingkan emas sebagai aset non-yield, turut memicu turunnya HPE dan HR emas," kata Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana.

Satu hal yang menarik: logam mulia lainnya justru bergerak berlawanan arah. Perak spot melonjak 1,6% ke US$87,88 per ons setelah menyentuh level tertinggi dua bulan. Platinum melesat 1,6% ke US$2.159,58 per ons, tertinggi sejak 12 Maret, sementara paladium menguat 1,2% ke US$1.508,39 per ons. Rotasi ke logam industri. Bisa jadi pasar sedang bilang sesuatu.

Pertanyaannya sekarang: koreksi sehat setelah reli panjang, atau awal tren balik yang lebih serius? Jawaban itu, kalau data ini bisa dipercaya, ada di keputusan The Fed berikutnya.