Harga emas batangan rontok paling dalam sejak Juli. Penurunan 2,9% pada akhir pekan ini mengakhiri reli yang sepanjang Agustus sudah membawa harga emas spot melesat sekitar 13%, bahkan sempat menyentuh US$4.631,8 per ons troi pada Kamis (27/8).
Pemicunya satu: Kevin Warsh bicara tegas. Dalam pidato pertamanya sejak dilantik sebagai Ketua Federal Reserve pada Mei lalu, Warsh tampil di konferensi tahunan Jackson Hole tanpa memberi ruang tafsir ganda. Ia menegaskan inflasi harus dikembalikan ke target 2%, yang disebutnya sebagai target "tegas dan tetap," dan bahwa suku bunga jangka pendek tetap menjadi instrumen utama kebijakan moneter. Kebijakan nonkonvensional, kata Warsh, sebaiknya hanya digunakan dalam krisis nyata, bukan sebagai alat rutin.
Dolar AS langsung menguat. Emas dihajar.
Respons pasar ini agaknya mengejutkan sebagian pelaku yang sepekan terakhir masih optimistis. Reli Agustus sempat dianggap sebagai konfirmasi bullish reversal jangka menengah, sekaligus mematahkan asumsi lama bahwa suku bunga tinggi otomatis menekan logam mulia. Ketika Warsh membuka mulut di Wyoming, asumsi itu kembali berlaku penuh.
Dari sisi teknikal, sinyal pelemahan ini sebenarnya sudah terbaca lebih awal. Analisis Dupoin Futures sebelum pidato Warsh sudah menempatkan skenario bearish sebagai proyeksi utama, dengan target support di kisaran US$4.540 hingga US$4.517. Area resistance 4.617 hingga 4.643 yang gagal ditembus secara konsisten menjadi indikasi bahwa buyer belum punya tenaga cukup untuk membalik struktur tren. "Oleh karena itu, Dupoin Futures melihat risiko pelemahan masih perlu menjadi perhatian utama untuk pekan depan," kata analis Dupoin Futures Geraldo Kofit dalam analisisnya sebelum pidato Warsh digelar.
Kini support itu bukan lagi sekadar proyeksi. Zona 4.540 menjadi garis pertama yang akan diuji. Kalau jebol, tekanan bearish bisa menguat dan membuka jalan turun lebih lanjut menuju 4.517. Rejection kuat di area ini, sebaliknya, bisa memantik rebound yang lumayan.
Faktor geopolitik masih bisa menjadi penyelamat jangka pendek. Sanksi AS terhadap Iran dan ketegangan di Selat Hormuz berpotensi mendorong permintaan safe haven, yang bisa menahan kejatuhan lebih dalam. Entah kebetulan atau tidak, setiap kali emas tertekan dari dua sisi sekaligus, biasanya geopolitik muncul sebagai variabel pengganggu yang tidak diundang.
Bagi investor ritel yang sudah nyangkut setelah ikut-ikutan reli Agustus, momen ini cukup menyengat. Naik 13% dalam sebulan terasa manis, tapi koreksi 2,9% dalam satu hari mengingatkan bahwa logam mulia bukan aset satu arah. Pertanyaannya, berapa lama pasar butuh untuk mencerna ulang postur Warsh? Arah XAUUSD pekan depan sangat bergantung pada apakah data ekonomi AS berikutnya memperkuat atau justru menggoyahkan taruhan suku bunga naik.