SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  El Nino Mengintai, Ekonom: Stok Beras Aman Saja Be...

Ekonomi

El Nino Mengintai, Ekonom: Stok Beras Aman Saja Belum Cukup

Indef mengingatkan pemerintah agar tidak terlena dengan cadangan beras yang relatif kuat, karena El Nino mengancam lebih dari sekadar satu komoditas. Di lapangan, Bulog Ruteng sudah bergerak mengamankan 1.500 ton beras untuk wilayah Manggarai.

Ekonom sebut cadangan pangan harus diperkuat hadapi El-Nino

Stok beras relatif aman. Tapi itu baru setengah cerita.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, memperingatkan bahwa pemerintah tidak boleh berhenti di situ. Menjelang musim kemarau yang diprediksi bakal diperparah El Nino, cadangan komoditas lain, mulai dari jagung, gula, kedelai, bawang, telur, daging ayam, hingga daging sapi, harus punya batas minimum stok operasional yang jelas, termasuk sebarannya per wilayah.

"Dari sisi cadangan, pemerintah tidak boleh hanya merasa aman karena stok beras relatif kuat," kata Rizal. Ia mendorong pendekatan berbasis sistem peringatan dini yang terintegrasi antara BMKG, Bapanas, BPS, Bulog, dan pemerintah daerah, koordinasi lintas lembaga yang, kalau data ini bisa dipercaya, selama ini masih berjalan sendiri-sendiri.

Dari sisi produksi, pemerintah perlu segera memetakan sentra-sentra yang paling rentan terhadap kekeringan. Percepatan perbaikan irigasi, pompanisasi, pemanfaatan embung, penyesuaian kalender tanam, semua itu, kata Rizal, harus dieksekusi lebih dini. Bukan menunggu sawah sudah retak.

"Pendekatannya tidak boleh reaktif setelah produksi turun dan harga melonjak," tegasnya.

Sementara di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Bulog Cabang Ruteng sudah bergerak. Kepala Bulog Ruteng Yermi R.F Djami menyebutkan stok beras reguler di gudang saat ini sekitar 1.500 ton. Ditambah penyerapan dari petani lokal yang hampir menyentuh 600 ton dan masih terus berjalan selama masa panen berlangsung. Harga serap ditetapkan Rp12.000 per kilogram di gudang, berlaku bagi petani yang memenuhi standar kualitas pemerintah.

"Akan kami ambil lagi biar bisa bertambah lagi untuk ketahanan stok," ujar Yermi. Kalau penyerapan lokal habis dan panen berakhir, Bulog Ruteng sudah menyiapkan skenario mutasi pasokan dari NTB dan Jawa Timur, sesuai arahan Bulog Pusat.

Selain beras, Bulog Ruteng menerima tambahan pasokan Minyak Kita sebanyak tiga kontainer, setara sekitar 50 ribu liter. Bulog hanya menyalurkan 30 persen dari total alokasi; 70 persen sisanya didistribusikan langsung oleh produsen lewat jaringan komersial.

Soal program bantuan pangan beras yang disiapkan pemerintah pusat sebagai antisipasi El Nino, Yermi mengakui distribusi di lapangan belum bisa dimulai. Bulog Ruteng masih menunggu data penerima manfaat dan petunjuk teknis pelaksanaan. "Nah, ini kita masih menunggu data-data penerimanya sama juknisnya seperti apa, itu yang sementara belum ada. Nanti kalau sudah ada, baru kita bisa laksanakan," katanya. Alokasi tiga bulan sudah disiapkan di tingkat pusat, tapi di ujung distribusi, mesin belum menyala.

Dua gambaran ini, peringatan Indef di Jakarta dan kesiapan Bulog di Manggarai, sebetulnya menunjuk ke arah yang sama. Ancaman El Nino sudah dipahami. Pertanyaannya: apakah telur, jagung, dan bawang di daerah-daerah rentan punya jaring pengaman sekuat beras?