Ekspor sawit Indonesia pada Juni 2026 meledak. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat volume pengiriman produk sawit mencapai 3,27 juta ton sepanjang Juni, melonjak 64,08 persen dibanding Mei yang hanya 1,99 juta ton, agaknya di luar proyeksi banyak pelaku industri.
Yang paling mencolok bukan lonjakan total volumenya. CPO mentah melesat 980 persen secara bulanan, dari 31.000 ton di Mei menjadi 335.000 ton di Juni. Angka yang tidak main-main. Ekspor olahan minyak sawit ikut melesat 66 persen menjadi 2,35 juta ton; olahan minyak inti sawit naik 110 persen ke 116.000 ton. Lonjakan serentak di semua lini produk seperti ini jarang terjadi, dan kalau data ini bisa dipercaya, ini salah satu bulan terkuat dalam beberapa tahun terakhir.
India memimpin akselerasi di sisi tujuan. Pengiriman ke negara dengan 1,4 miliar penduduk itu mencapai 328.000 ton pada Juni, naik 396 persen dibanding bulan sebelumnya. Cina menyerap 256.000 ton (naik 67%), Pakistan 132.000 ton (naik 88%), Malaysia 129.000 ton (naik 149%), Afrika 114.000 ton (naik 45%), Bangladesh 98.000 ton (naik 133%), dan Amerika Serikat 85.000 ton (naik 64%). Pasar yang melemah hanya dua: Rusia tergerus 20 persen ke 25.000 ton, dan Uni Eropa amblas 2 persen ke 4.000 ton.
Nilai devisa yang tergali pun ikut tebal. Nilai ekspor sawit Juni 2026 menembus US$3,92 miliar atau setara sekitar Rp63,8 triliun, naik 57,45 persen dari US$2,49 miliar di Mei. Ironisnya, rata-rata harga ekspor CPO justru terkoreksi 4,32 persen ke US$1.174 per ton, sejalan dengan penurunan harga di bursa MDEX dari US$1.134 menjadi US$1.107 per ton. Artinya, nilai besar ini murni ditopang volume, bukan harga, pola klasik ketika permintaan menumpuk setelah beberapa bulan lesu.
Secara kumulatif semester pertama 2026, total ekspor sawit nasional menyentuh 16,59 juta ton, tumbuh 5,79 persen dibanding 15,68 juta ton pada periode yang sama 2025. Nilai akumulasinya mencapai US$19,45 miliar, naik 12,57 persen year-on-year dari US$17,28 miliar. Rata-rata harga CPO selama enam bulan pertama 2026 tercatat US$1.132 per ton, lebih kencang dibanding US$1.088 per ton di semester I 2025.
Di dalam negeri, konsumsi bergerak naik meski tidak sedramatis ekspor. Total penyerapan domestik Juni 2026 mencapai 2,201 juta ton, naik 5,92 persen dari 2,078 juta ton di Mei. Biodiesel tetap jadi motor utama dengan konsumsi 1,131 juta ton, disusul kebutuhan pangan 878.000 ton dan oleokimia 192.000 ton. Kumulatif Januari-Juni 2026, konsumsi domestik mencapai 12,994 juta ton, tumbuh 5,48 persen dibanding 12,272 juta ton setahun sebelumnya.
Produksi juga tumbuh, tapi kalah laju. CPO yang diproduksi pada Juni mencapai 4,82 juta ton, naik 8,59 persen dari 4,16 juta ton di Mei. Ditambah produksi palm kernel oil (PKO) sebesar 449.000 ton, total produksi bulan itu menembus 5,27 juta ton. Sepanjang semester pertama, akumulasi produksi CPO dan PKO mencapai 30,28 juta ton, terkerek 15,82 persen dibanding 27,88 juta ton di periode yang sama 2025.
Stok akhir Juni 2026 tersisa 2,84 juta ton. Kalkulasinya sederhana: stok awal tahun 2,06 juta ton, ditambah produksi 30,28 juta ton dan impor 32.000 ton, dikurangi konsumsi domestik 12,99 juta ton serta ekspor 16,59 juta ton. Turun dari 3,04 juta ton di akhir Mei. Menyusut, meski masih di level yang terkelola.
Pertanyaannya sekarang: apakah lonjakan ekspor Juni ini momentum nyata, atau sekadar efek penumpukan pesanan yang tertunda dari bulan-bulan sebelumnya? Tren harga CPO global yang masih tertekan bisa jadi variabel penentu arah semester kedua.