Sepanjang Januari hingga Mei 2026, industri sawit Indonesia membukukan ekspor senilai US$ 15,53 miliar, tumbuh 13,82% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Volume ekspornya terkerek 10,26% secara tahunan menjadi 13,32 juta ton. Angka-angka ini, jujur saja, cukup untuk meredam kekhawatiran soal dampak B50 terhadap pasokan ekspor. Setidaknya untuk 2026.
Kekhawatiran itu memang wajar. Implementasi mandatori biodiesel B50 menambah kebutuhan bahan baku CPO domestik sekitar 1,74 juta ton, sehingga total konsumsi CPO untuk program biodiesel tahun ini diproyeksikan mencapai 14,4 juta ton. Bukan angka sepele. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono menegaskan ketersediaan pasokan masih memadai untuk menutup kebutuhan itu tanpa harus mengorbankan slot ekspor.
"Kalau tahun ini seharusnya tidak ada masalah. Walaupun terjadi El Nino, kebutuhan tambahan bahan baku CPO untuk B50 maksimum sekitar 1,74 juta ton atau secara total sekitar 14,4 juta ton," ujar Eddy. Risiko nyata, kata dia, baru muncul kalau El Nino berlanjut ke 2027, di mana produksi sawit nasional berpotensi stagnan atau bahkan turun, dan porsi pasokan untuk ekspor mulai tergerus. "Kalau terjadi El Nino tahun 2027 baru terjadi masalah, karena bisa jadi produksi stagnan atau bahkan turun. Ini bisa mengurangi porsi ekspor, jumlahnya tergantung produksi dan permintaan ekspor pada 2027," jelasnya.
Data Gapki memang menunjukkan perlambatan di Mei 2026. Produksi CPO dan PKO amblas 7,16% secara bulanan menjadi 4,55 juta ton. Total ekspor produk sawit ikut tergerus 28,14% menjadi 1,996 juta ton. Ekspor CPO mentah bahkan anjlok 79,7% menjadi hanya 31.000 ton, seiring melemahnya harga CPO CIF Rotterdam dari US$ 1.566 per ton di April menjadi US$ 1.453 per ton di Mei. Koreksi bulanan yang cukup dalam. Tapi tren kumulatif masih positif, dan itu yang lebih penting dibaca pasar.
Ada yang agaknya luput dari perhatian: stok minyak sawit nasional hingga akhir Mei 2026 justru naik ke 3,04 juta ton, dari posisi awal tahun 2,07 juta ton. Bantalan pasokan yang tidak kecil. China tetap menjadi pembeli paling agresif, dengan lonjakan pembelian 46% dibandingkan Januari-Mei 2025. India naik 3%, Afrika 14%, Uni Eropa 3%. Ekspor ke Amerika Serikat masih terkoreksi 8%.
Soal Uni Eropa, industri harus berhadapan dengan European Union Deforestation Regulation (EUDR), kebijakan antideforestasi yang selama ini dianggap batu sandungan ekspor sawit ke pasar Eropa. Pelaku industri dan pemerintah menilai penguatan standar keberlanjutan dan percepatan negosiasi dagang Indonesia-Uni Eropa bisa menjadi jalan keluar yang realistis, bukan hambatan permanen. Entah kebetulan atau tidak, ekspor kumulatif ke Eropa justru masih mencatat pertumbuhan 3% meski bayangan regulasi itu belum sepenuhnya sirna.
Di luar urusan volume, ada sisi lain dari narasi B50 yang menarik. Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti melihat program ini sebagai katalis hilirisasi sawit yang lebih dalam. Produk turunan sawit, ia ingatkan, mencapai lebih dari 200 jenis, mencakup farmasi, pangan, kosmetik, hingga pelumas. Indonesia terlalu lama terjebak ekspor CPO mentah, padahal nilai tambah sesungguhnya ada di hilir.
"Indonesia punya peluang besar untuk terus menghilirisasikan sawit menjadi berbagai produk turunan sawit. Tapi paling penting adalah membangun ekosistemnya," ungkap Esther. Diferensiasi produk dan kepatuhan terhadap standar mutu internasional, khususnya untuk produk pangan dan kosmetik, ia sebut sebagai prasyarat agar daya saing ekspor tidak hanya bertumpu pada harga komoditas.
Dari sisi fiskal, Kementerian ESDM memproyeksikan B50 mampu menghemat devisa sekitar Rp170 triliun sepanjang 2026, sekaligus menciptakan hingga 2,1 juta lapangan kerja baru. Klaim yang masih perlu dibuktikan realisasinya. Tapi skala angkanya memberikan gambaran betapa besar taruhan pemerintah pada program ini.
Untuk saat ini, ekspor sawit Indonesia berdiri di atas pondasi yang cukup kokoh. Pertanyaannya bukan apakah 2026 akan baik-baik saja. Tapi seberapa siap industri ini menghadapi 2027 jika El Nino benar-benar datang menagih.