Ekspor Provinsi Riau sepanjang Januari hingga Mei 2026 menorehkan nilai US$8,60 miliar, tumbuh 5,58 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Kelapa sawit masih menjadi tulang punggung yang sulit digantikan komoditas lain.
Angka itu ditopang sepenuhnya oleh ekspor nonmigas yang melonjak 9,37 persen menjadi US$8,26 miliar. Sebaliknya, ekspor migas amblas 42,83 persen. Cermin nyata betapa perdagangan luar negeri Riau kini bertumpu pada sektor industri pengolahan, yang berkontribusi 94,55 persen dari total nilai ekspor.
Komoditas lemak dan minyak hewan atau nabati, yang didominasi produk turunan kelapa sawit, meraup US$4,69 miliar sepanjang lima bulan pertama tahun ini. Tumbuh 13,54 persen, setara kenaikan US$559,66 juta dibanding Januari-Mei 2025. Porsinya 56,82 persen dari seluruh ekspor nonmigas Riau. Bukan angka kecil untuk satu kelompok komoditas.
Kejutan datang dari bahan kimia organik yang melesat 74,68 persen menjadi US$452,71 juta. Makanan olahan terkerek 20,20 persen, ampas dan sisa industri makanan menguat 25,04 persen. Sinyal bahwa hilirisasi berbasis sawit perlahan mulai mencetak jalur ekspor baru yang layak dicermati. Pertanyaannya, berapa lama momentum ini bisa bertahan?
Sisi lain yang agaknya perlu diperhatikan: bubur kayu atau pulp tergerus US$109,38 juta, turun 13,67 persen. Buah-buahan lebih parah, amblas 48,05 persen. Sektor pertanian membukukan penurunan ekspor 11,08 persen.
Mei 2026 memperlihatkan gejala perlambatan. Nilai ekspor bulan itu hanya US$1,56 miliar, turun 4,48 persen dibanding Mei 2025. Ekspor migas anjlok 39,28 persen menjadi US$58,32 juta, sementara ekspor nonmigas terkoreksi 2,31 persen menjadi US$1,50 miliar. Kepala BPS Riau Asep Riyadi menyebut penurunan bulanan ini terutama karena melemahnya sisi migas, bukan karena komoditas andalan kehilangan daya.
"Secara kumulatif Januari hingga Mei 2026, ekspor Riau masih tumbuh positif sebesar 5,58 persen. Hal ini didorong oleh peningkatan ekspor nonmigas yang naik 9,37 persen. Namun, secara bulanan pada Mei 2026 memang terjadi penurunan, terutama karena melemahnya ekspor migas," kata Asep Riyadi, Rabu (15/7/2026).
Tiongkok masih kukuh sebagai pasar terbesar, menyerap US$1,55 miliar atau sekitar 18,72 persen dari total ekspor nonmigas. Yang menarik, nilai ekspor ke Tiongkok justru naik 22,22 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. India mengikuti di posisi dua dengan US$694,01 juta, lalu Malaysia di angka US$626,08 juta. Gabungan ketiganya menyumbang 34,71 persen dari total ekspor nonmigas Riau.
Di luar tiga besar, sejumlah pasar nontradisional juga bergerak. Amerika Serikat meningkat 16,59 persen, Italia melonjak 26,46 persen, Vietnam tumbuh 17,89 persen, Rusia naik 9,86 persen. Diversifikasi pasar yang selama ini dianggap jalan di tempat agaknya mulai menunjukkan hasil, meski porsi absolut pasar-pasar itu masih jauh di bawah Asia.
Dari sisi impor, angkanya melonjak tajam 140,76 persen menjadi US$1,63 miliar. Masif. Lonjakan sebesar ini bisa dibaca dua arah: bisa jadi sinyal ekspansi kapasitas industri pengolahan yang butuh bahan baku lebih banyak, bisa jadi juga tekanan yang akan menggerus neraca perdagangan jika ekspor tidak ikut terakselerasi.
"Dari seluruh ekspor nonmigas Riau, kelompok lemak dan minyak hewan atau nabati memberikan kontribusi sekitar 56,82 persen. Artinya, lebih dari separuh ekspor nonmigas Riau masih berasal dari komoditas tersebut," ujar Asep.
Selama sawit masih menjadi raja, kinerja ekspor Riau pada dasarnya hanya seagresif harga CPO global dan permintaan Tiongkok. Diversifikasi komoditas dan pasar ada, tapi belum cukup mengubah struktur ketergantungan itu dalam waktu dekat, kalau data ini bisa dijadikan patokan.