Angka 34,25 persen bukan sekadar statistik bulanan biasa. Itu kejatuhan ekspor sawit Indonesia yang cukup keras untuk membuat stok nasional menggelembung dalam sebulan, dan cukup keras untuk memaksa GAPKI angkat bicara soal geopolitik sebagai kambing hitam.
Data GAPKI yang dirilis Senin (25/5/2026) menunjukkan tekanan melanda hampir semua lini sekaligus. Total ekspor produk sawit hanya 2,168 juta ton, turun dari 3,297 juta ton di Februari. Paling dalam terjadi pada CPO mentah: amblas 75,61 persen menjadi 96.000 ton saja. Produk olahan minyak sawit terkoreksi 33,57 persen, sementara olahan minyak inti sawit susut 44,67 persen. Satu-satunya yang masih bisa berdiri tegak adalah oleokimia, naik tipis 1,42 persen menjadi 468.000 ton.
Nilai ekspor pun ikut tergerus. Dari 3,69 miliar dolar AS di Februari, Maret hanya membukukan 2,61 miliar dolar AS, turun 29,27 persen. Setara penurunan sekitar Rp18 triliun devisa dalam satu bulan.
Dua negara importir terbesar jadi pemain kunci di balik kejatuhan ini. China memangkas impor hingga 314.000 ton, India menyusul 291.000 ton. Pakistan, Bangladesh, dan kawasan Afrika masing-masing mundur 113.000 ton, 90.000 ton, dan 81.000 ton. Timur Tengah memotong 77.000 ton, Malaysia 71.000 ton, Amerika Serikat 41.000 ton, Uni Eropa 25.000 ton. Yang tumbuh? Hanya Rusia, dengan tambahan 24.000 ton.
Biaya freight dan asuransi global melonjak sekitar 50 persen akibat ketegangan geopolitik internasional. Ketua Umum GAPKI Eddy Martono menyebut kenaikan itu membuat harga sawit Indonesia kalah bersaing di pasar global, mendorong importir beralih ke minyak nabati alternatif yang lebih murah. "Karena transportasinya naik, mereka menggantikan dengan minyak nabati lain," kata Eddy.
Sisi produksi memang turun, tapi bukan kejutan musiman. CPO Maret 2026 tercatat 4,403 juta ton, susut 12,22 persen dari Februari yang sebesar 5,015 juta ton. PKO turun dari 485.000 ton menjadi 418.000 ton, sehingga total CPO plus PKO menjadi 4,821 juta ton, tergerus 12,35 persen. Angka-angka ini disampaikan Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono lewat siaran pers Senin (25/5/2026).
Konsumsi dalam negeri pun melemah, turun 8,25 persen dari 2,305 juta ton di Februari menjadi 2,115 juta ton di Maret. Konsumsi pangan anjlok 9,03 persen ke 897.000 ton, biodiesel tergerus 7,71 persen ke 1,056 juta ton, oleokimia terkoreksi 7,43 persen ke 162.000 ton.
Hasilnya? Stok meledak. Stok akhir minyak sawit nasional pada akhir Maret 2026 melesat ke 2,568 juta ton dari 2,026 juta ton di akhir Februari. Agaknya ini yang paling perlu dicermati investor, stok menumpuk tanpa penyerapan setara bisa menekan harga di bulan-bulan berikutnya.
Tapi jangan keburu pesimistis. Secara tahunan, gambarannya jauh lebih cerah. Kumulatif Januari-Maret 2026, total produksi CPO plus PKO menyentuh 15,558 juta ton, naik 18,44 persen dari 13,135 juta ton di periode sama 2025. Nilai ekspor kumulatif triwulan pertama mencapai 9,66 miliar dolar AS atau sekitar Rp162,7 triliun, tumbuh 10,40 persen secara yoy. Volume ekspor kumulatif juga naik 11,91 persen ke 8,54 juta ton. Harga rata-rata CPO Januari-Maret 2026 bertengger di 1.356 dolar AS per ton CIF Rotterdam, lebih tinggi dari 1.230 dolar AS per ton di periode sama 2025.
Jadi tren besarnya masih tumbuh. Maret-nya saja yang sedang bersin keras.
Bersamaan dengan tekanan jangka pendek ini, GAPKI justru mendorong agenda jangka panjang yang tidak bisa diabaikan. Lewat Konsorsium Mekanisasi, Digitalisasi, dan Otomasi (MDO), asosiasi ini menggelar benchmarking di kebun PT Binasawit Abadipratama di Kecamatan Hanau, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Ketua Bidang Riset dan Pengembangan GAPKI Dwi Asmono blak-blakan soal urgensinya: "Innovate or die. Persaingan di industri minyak ini luar biasa."
Bukan kalimat yang berlebihan. Indonesia produsen sawit terbesar dunia, kontribusinya sekitar 40 persen kebutuhan sawit global. Tapi posisi itu bukan jaminan, kalau efisiensi produksi tertinggal dari kompetitor, pangsa pasar bisa digerus pelan-pelan. Tantangan yang dihadapi industri ini jauh lebih struktural dari sekadar fluktuasi ekspor bulanan: kelangkaan tenaga kerja, tuntutan keberlanjutan dan keterlacakan rantai pasok, perubahan iklim.
Satu faktor domestik lagi perlu masuk radar: rencana implementasi mandatori biodiesel B50. Perkumpulan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) memperkirakan pungutan ekspor berpotensi naik di atas 10 persen seiring kebijakan itu. Bagi eksportir, ini beban tambahan yang datang di waktu yang kurang tepat, bak gayung bersambut di momen yang salah.