Sepanjang Januari hingga Mei 2026, Kota Batam membukukan ekspor senilai US$7,859 miliar, menyusut 3,06 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$8,108 miliar. Biang keroknya: ekspor nonmigas yang selama ini jadi tulang punggung perdagangan luar negeri Batam tergerus 3,53 persen, dari US$7,775 miliar menjadi US$7,501 miliar.
"Penurunan ekspor kumulatif Januari-Mei 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya disebabkan oleh menurunnya ekspor sektor nonmigas," ujar Kepala BPS Kota Batam Eko Aprianto, Minggu (5/7).
Secara bulanan, tekanannya terasa jauh lebih dalam. Ekspor Mei 2026 tercatat US$1,468 miliar, anjlok 18,34 persen dibanding Mei 2025. Ekspor nonmigas bulan itu ambles 21,20 persen menjadi US$1,369 miliar. Masif. Di sisi lain, ekspor migas justru melesat 64,99 persen menjadi US$98,45 juta, angka yang tidak cukup besar untuk menutup koreksi di nonmigas, tapi setidaknya menunjukkan tidak semua sektor bergerak searah.
Di sisi impor, ceritanya berbeda. Lonjakan 14,21 persen mencerminkan bahwa mesin industri Batam belum berhenti berputar: kebutuhan bahan baku dan barang modal dari sektor manufaktur masih tinggi. Lonjakan impor ini, entah kebetulan atau tidak, datang tepat di saat ekspor sedang lesu.
Komoditas unggulan masih dikuasai mesin dan peralatan listrik (HS 85) dengan nilai US$4,058 miliar, atau 54,09 persen dari total ekspor nonmigas. Di luar elektronik, ada mesin dan pesawat mekanik, produk kimia, hingga barang dari besi dan baja. Yang agak mengejutkan, ekspor ikan dan udang justru tumbuh 28,34 persen menjadi US$8,47 juta. Segmen kecil yang bergerak melawan arus.
Amerika Serikat tetap menjadi pasar terbesar dengan serapan US$2,083 miliar, atau 26,50 persen dari total ekspor, meski nilainya tergerus tipis 0,95 persen. Singapura, India, Tiongkok, dan Jepang melengkapi lima besar, dengan Australia, Belanda, Filipina, Malaysia, dan Uni Emirat Arab melengkapi jajaran sepuluh teratas. Sepuluh negara itu secara kolektif menyerap 81,87 persen total ekspor Batam.
Yang berpotensi memperumit gambaran adalah tekanan harga gas industri. Dari sekitar US$15 per MMBTU pada Mei, harga gas di Batam sudah naik ke US$20 per MMBTU pada Juni, dan masih berpeluang merangkak naik lagi pada Juli. Ketua APINDO Batam Rafky Rasyid tidak memilih kata-kata yang lembut soal ini. "Kalau harga gas terus naik, otomatis biaya produksi perusahaan juga ikut naik. Industri di Batam yang bergantung pada gas akan paling merasakan dampaknya," tegasnya kepada Batam Pos, Senin (13/7).
Rafky memetakan sektor paling rentan: galangan kapal dan offshore, fabrikasi logam, oleokimia, dan sebagian elektronik. Sektor jasa pun tidak luput, termasuk rumah sakit, hotel, dan industri makanan dan minuman. Ia mencontohkan Ecogreen di segmen oleokimia yang konsumsi gasnya cukup besar, sehingga setiap kenaikan harga langsung memukul margin.
Satu pengecualian: PLN Batam agaknya tidak akan langsung terdampak dalam waktu dekat karena masih mendapat pasokan gas lewat skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) di sekitar US$7 per MMBTU. Untuk industri di luar skema itu, beban energi sedang bergerak ke arah yang tidak nyaman. Pertanyaannya, berapa lama daya saing ekspor Batam masih bisa bertahan?