KAMIS, 22 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Ekspansi Data dan Efisiensi Jadi Amunisi ISAT di 2...

Finansial

Ekspansi Data dan Efisiensi Jadi Amunisi ISAT di 2026

Dua analis dari KISI dan KB Valbury kompak proyeksikan pertumbuhan ISAT berlanjut di 2026, ditopang monetisasi data dan efisiensi dari capex jumbo tahun lalu.

Capex Rp 13,28 triliun yang digelontorkan PT Indosat Tbk (ISAT) sepanjang 2025 agaknya mulai memperlihatkan hasil. Para analis kini kompak menaruh ekspektasi positif untuk kinerja emiten telekomunikasi ini di tahun buku 2026, dengan segmen data sebagai mesin utama pertumbuhan.

Angka capex itu bukan kecil. Naik 33,73% dibanding 2024 yang tercatat Rp 9,93 triliun, dan porsi terbesar, sekitar 78,6%, mengalir untuk pengembangan bisnis seluler. Muhammad Wafi, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), menilai investasi besar-besaran itu mulai menghasilkan dampak nyata pada kualitas layanan dan jangkauan jaringan.

Ekspansi ke luar Jawa, menurut Wafi, jadi kunci monetisasi data. Wilayah non-Jawa selama ini masih menyimpan ruang penetrasi yang lebar, dan jaringan yang makin kuat di sana bisa langsung berpengaruh ke ARPU. Efisiensi operasional dari capex sebelumnya juga ia sebut sebagai faktor yang akan terus menekan struktur biaya.

Katalis lain yang ia identifikasi: rasionalisasi tarif paket data di industri, ekspansi fixed broadband lewat Indosat HiFi, serta monetisasi layanan digital B2B termasuk pemanfaatan AI. Ketiganya, entah kebetulan atau tidak, sedang jadi tren besar di industri telko regional.

Dari sisi angka, Steven Gunawan dari KB Valbury Sekuritas memproyeksikan pendapatan data ISAT tumbuh 7,6% year-on-year menjadi Rp 46,7 triliun. Proyeksi ini dibangun di atas asumsi jumlah pelanggan stabil di 93,7 juta, pertumbuhan trafik 8,3%, yield relatif flat di Rp 2,44 per MB, dan ARPU yang merayap naik moderat ke Rp 44.900.

Segmen fixed broadband turut masuk radar. Steven melihat peluang pertumbuhan pelanggan FBB sebesar 6,6% YoY karena tingkat penetrasi broadband di pasar domestik masih rendah.

Ia memperkirakan pendapatan ISAT 2026 mencapai Rp 59,29 triliun, naik 4,9% dari realisasi 2025 yang tercatat Rp 56,52 triliun. Laba bersih? Diproyeksikan menembus Rp 6,02 triliun, tumbuh 9,2% dari Rp 5,51 triliun tahun sebelumnya yang sudah melesat 12,2%.

Tapi Wafi mengingatkan soal risiko. Tekanan daya beli segmen menengah ke bawah akibat inflasi bisa menahan pertumbuhan pelanggan. Lebih konkret lagi, pelemahan rupiah berpotensi menggembungkan beban karena capex lanjutan dan sewa menara sebagian besar ditagih dalam dolar AS. "Depresiasi rupiah bisa membebani biaya capex lanjutan dan sewa menara," ujar Wafi.

Keduanya tetap rekomendasikan buy. Steven pasang target harga Rp 2.500, Wafi lebih agresif di Rp 3.000 per saham. Selisih Rp 500 itu bisa jadi cermin seberapa jauh masing-masing analis percaya efisiensi dan ekspansi ISAT bakal terealisasi tahun ini.