Triwulan pertama 2026 ditutup dengan angka yang bikin lega: ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% secara tahunan, melampaui rata-rata kawasan ASEAN sekaligus proyeksi sejumlah lembaga internasional. Bukan pencapaian kecil.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan deretan indikator yang ia klaim masih terjaga. Inflasi Mei tercatat sekitar 3%, indeks keyakinan konsumen bertahan di atas 120, cadangan devisa per Mei mencapai US$144,9 miliar, dan PMI S&P berada tepat di level 50. Neraca perdagangan April surplus US$0,09 miliar, tipis, kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal permintaan eksternal yang pulih. Tekanan ekspor, setidaknya di angka itu, belum sepenuhnya reda.
"Jadi relatif perekonomian masih dalam track yang positif," tegas Airlangga dalam Economic Update CNBC Indonesia, Senin (29/6).
Untuk menjaga daya beli semester II, pemerintah menggelontorkan paket stimulus Rp26,34 triliun. Bantuan pangan berupa beras menyasar 33,24 juta keluarga penerima manfaat selama tiga bulan; subsidi kedelai menyokong pelaku usaha tahu dan tempe; diskon transportasi mencakup penerbangan, kereta api, dan kapal laut kelas ekonomi. Pemerintah agaknya mengunci libur sekolah, Natal, dan Tahun Baru sebagai katalis konsumsi domestik.
Sisi ketenagakerjaan ikut digarap. Program magang nasional dijadwalkan bergulir Juli ini, menyasar lulusan baru yang akan ditempatkan enam bulan di sektor industri, jasa, dan ekonomi digital dengan insentif pemerintah. Sekitar 220 ribu lulusan SMK juga disiapkan masuk program vokasi dan reskilling, sebagian diarahkan menembus pasar kerja luar negeri.
Dua agenda perdagangan besar dikebut bersamaan. Perundingan IEU-CEPA ditargetkan diratifikasi tahun ini, jika terwujud, sekitar 90% produk Indonesia masuk ke pasar Eropa tanpa bea. Aksesi ke CPTPP dan OECD berjalan paralel. Bagi eksportir, ini pintu yang lama dinanti.
Pemerintah juga menyiapkan financial center di Bali lewat kerangka regulasi yang tengah dibahas bersama DPR, serta mendorong proyek energi hijau melalui pembiayaan Just Energy Transition Partnership (JETP), dari geothermal sampai waste-to-energy.
Airlangga menutup keterangannya dengan nada yang nyaris seperti sales pitch. "Dalam situasi seperti ini biasanya capital goods itu menjadi sangat kompetitif atau relatif murah. Jadi kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Jadi bagi perusahaan yang ingin melakukan ekspansi ini waktu yang sangat tepat," pungkasnya. Klaim yang masih perlu dibuktikan di lapangan, banyak pelaku usaha masih wait-and-see menghadapi ketidakpastian tarif global.
Angka 5,61% solid di atas kertas. Pertanyaannya: apakah Rp26,34 triliun cukup untuk mempertahankan laju itu sampai Desember, atau sekadar peredam sementara?