Kuartal I 2026 kemungkinan masih menyimpan angka yang lumayan. Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tiga bulan pertama tahun ini bisa menyentuh sekitar 5,5 persen, ditopang momentum musiman yang cukup mumpuni: Natal, Tahun Baru, Imlek, dan puncaknya Lebaran. Kombinasi itu, secara historis, selalu jadi katalis konsumsi jangka pendek.
Tapi setelah kuartal I, ceritanya bisa lain sama sekali.
Wijayanto mewanti-wanti soal tekanan yang mengintai dari banyak arah sepanjang sisa tahun. Daya beli melemah, nilai tukar belum stabil, inflasi merangkak, investor global masih memilih posisi wait and see. Ditambah lagi potensi El Nino yang bisa memperburuk kondisi ekonomi. Pendek kata, jalan ke depan tidak mulus.
"Saya rasa Indonesia akan tumbuh di atas proyeksi World Bank, tetapi sulit untuk bisa tembus lima persen," kata Wijayanto.
Angka 4,7 persen. Itu proyeksi terbaru Bank Dunia setelah dipangkas dari 4,8 persen pada Oktober 2025. Wijayanto yakin realisasinya bisa di atas level itu, tapi menembus angka psikologis lima persen adalah perkara lain.
Mesin pertumbuhan Indonesia tahun ini, jujur saja, hampir sepenuhnya bertumpu pada konsumsi rumah tangga. Komponen lain terlihat lesu. Investasi diproyeksikan landai, ruang fiskal belanja pemerintah sempit, dan kinerja ekspor tidak bakal melonjak signifikan. Tidak banyak kejutan positif yang bisa diharapkan dari situ.
Dalam kondisi seperti ini, Wijayanto menyebut sejumlah sektor yang berpotensi jadi motor: perdagangan, keuangan, pertambangan dan hilirisasi, makanan-minuman, kesehatan, telekomunikasi, serta ritel. Campuran yang cukup defensif, dengan sedikit nuansa growth dari hilirisasi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespons pemangkasan proyeksi Bank Dunia dengan nada santai. Revisi itu, menurutnya, wajar mengingat tensi geopolitik global yang mempengaruhi banyak negara. "Dengan situasi perang kan, ya mereka semua menurunkan (proyeksi) di berbagai wilayah," ujar Airlangga.
Soal angka 4,7 persen itu sendiri, Airlangga bilang masih di atas rata-rata pertumbuhan global yang berada di kisaran 3,4 persen. Ia bahkan optimistis dan menantang publik menunggu hasil kuartal I 2026 sebagai pembuktian.
Dari sisi lembaga multilateral, Bank Dunia dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026 mencatat perlambatan Indonesia dipengaruhi tekanan eksternal, terutama kenaikan harga minyak global dan kehati-hatian investor di pasar keuangan internasional. Meski begitu, lembaga itu masih melihat penyangga berupa ekspor komoditas dan inisiatif investasi pemerintah yang bisa membantu meredam dampak kenaikan biaya energi dalam jangka pendek.
Penyangga yang ada, agaknya, hanya cukup untuk menahan banting. Bukan untuk terbang.