MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Dua Pejabat The Fed Kompak Hawkish: AI dan Minyak...

Ekonomi

Dua Pejabat The Fed Kompak Hawkish: AI dan Minyak Ancam Inflasi

Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee dan Gubernur Fed Lisa Cook sama-sama memperingatkan bahwa euforia AI dan lonjakan harga minyak bisa mendorong inflasi lebih tinggi, membuka opsi kenaikan suku bunga.

Pejabat The Fed Peringatkan Euforia AI Bisa Picu Inflasi Lebih Tinggi

Dalam satu hari yang sama, dua pejabat senior Federal Reserve bicara dengan nada yang nyaris identik, dan pasar perlu mencermatinya dengan serius.

Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee, dalam pidato di konferensi Bank of Japan pada Kamis (28/5/2026), memperingatkan bahwa euforia terhadap potensi produktivitas kecerdasan buatan justru bisa memicu overheating ekonomi. Senada, Gubernur Fed Lisa Cook di forum kebijakan AI yang digelar Stanford's Institute for Economic Policy Research menegaskan bahwa risiko inflasi masih condong ke atas, dan kenaikan suku bunga tetap jadi opsi terbuka.

Bukan sekadar peringatan biasa. Cook bahkan secara eksplisit menyatakan kesiapannya untuk menaikkan suku bunga jika inflasi tidak melandai sesuai harapan, sebuah sikap yang lebih hawkish dari ekspektasi pasar saat ini. Suku bunga kebijakan The Fed saat ini berada di kisaran 3,50 hingga 3,75 persen, setelah Cook dan mayoritas anggota memilih mempertahankannya di pertemuan terakhir.

Goolsbee membingkai masalahnya dengan lebih tajam. Ekspektasi terhadap produktivitas AI sudah melonjak bahkan sebelum manfaat nyata teknologi itu terealisasi, berbeda dengan boom komputer era 1990-an yang dampak produktivitasnya datang bersama pertumbuhannya. Ekspektasi yang mendahului kenyataan ini mendorong belanja dan investasi lebih awal, menekan harga ke atas lebih cepat dari yang seharusnya. "Semakin besar hype mengenai produktivitas masa depan, maka suku bunga mungkin perlu dinaikkan untuk mencegah overheating," tegasnya.

Cook merinci tiga faktor utama yang ia lihat sebagai penyebab tekanan harga: tarif yang diberlakukan tahun lalu dan dampak inflasinya diperkirakan akan mereda, harga minyak yang merangkak naik sejak pecahnya perang Iran pada 28 Februari lalu, serta lonjakan investasi terkait AI yang mendongkrak permintaan chip dan perangkat lunak sekaligus mengerek upah pekerja konstruksi seiring percepatan pembangunan pusat data.

Soal minyak, keduanya kompak. Goolsbee menyebut kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik Timur Tengah berpotensi memperparah tekanan inflasi, terutama jika bertemu dengan ekspektasi produktivitas AI yang sudah terlanjur tinggi. Ini kombinasi yang paling dikhawatirkan bank sentral: guncangan pasokan energi yang datang persis saat ekspektasi belanja sudah memanas. Bak api bertemu bensin.

Cook mengakui sebagian guncangan ini bersifat sementara secara teori. Tapi ia mengingatkan bahwa setelah lima tahun inflasi bertahan di atas target 2 persen, tekanan jangka pendek berisiko tertanam dalam perilaku penetapan harga dan upah untuk jangka menengah. Histori lima tahun itu bukan argumen yang mudah dibantah, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya.

4,3 persen. Itulah angka pengangguran April yang Cook nilai masih mencerminkan kondisi relatif stabil, kendati risiko penurunan tetap ada. Ia bahkan menyinggung risiko spesifik dari AI: gelombang kehilangan pekerjaan kemungkinan datang lebih dulu sebelum penciptaan lapangan kerja baru yang dijanjikan teknologi ini terwujud. Urutan yang tidak nyaman buat siapapun yang merumuskan kebijakan.

Positioning dua pejabat ini mempersulit posisi Ketua The Fed baru Kevin Warsh, yang menanggung ekspektasi penurunan suku bunga dari Presiden Donald Trump. Saham-saham sensitif suku bunga berpotensi kena tampar tambahan jika pejabat Fed lain ikut menyuarakan nada serupa dalam beberapa hari ke depan. Melihat tren pidato kemarin, bukan tidak mungkin itu akan terjadi.