Sepanjang sesi pertama perdagangan Selasa (21/7/2026), saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) jadi yang paling diserbu investor asing, mencatat net buy hingga 196,75 juta saham, tertinggi di antara seluruh emiten yang diperdagangkan hari ini.
Di sekitar pukul 09.20 WIB, DSSA sudah melonjak 5,52% ke level Rp860 dari harga pembukaan Rp815. Volume perdagangan mencapai 432,8 juta saham dengan nilai transaksi Rp376,9 miliar dan frekuensi 26.653 kali. Dari sisi nilai, net buy tercatat Rp129,6 miliar, tertinggi di antara saham-saham yang masuk zona beli pada sesi yang sama.
Momentum ini tidak datang tiba-tiba. Senin (20/7), DSSA sudah menguat 1,88% dengan net buy asing Rp11,53 miliar, sinyal akumulasi yang agaknya sudah berjalan beberapa hari sebelum sesi ini.
Pluang Maju Sekuritas memasang rekomendasi buy untuk DSSA dengan target harga Rp1.145 per saham, dihitung lewat metode sum-of-the-parts (SOTP) yang menggabungkan valuasi anak usaha dan aset-aset strategis: GEMS, portofolio panas bumi, pusat data SM+, DANA, XLSmart, dan Roliemex. Dari harga pembukaan hari ini, target itu mengindikasikan potensi upside sekitar 40,5%. Bukan angka kecil untuk saham konglomerasi.
Thesis investasi Pluang bertumpu pada satu premis besar: DSSA sedang bertransformasi dari emiten batu bara menjadi ekosistem infrastruktur kecerdasan buatan (AI) paling lengkap di Indonesia. Tiga pilar utamanya adalah dompet digital DANA dengan lebih dari 200 juta pengguna, pusat data hyperscale SMX01, dan kapasitas panas bumi 480 megawatt (MW) yang tengah dibangun.
"Batu bara yang membangun rumahnya, AI yang akan mengubah total mesin pertumbuhan DSSA," tulis Tim Riset Pluang Maju Sekuritas pada Rabu (1/7/2026).
Fondasi lama memang masih kokoh. Sepanjang FY25, PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) menyumbang sekitar 86,4% total pendapatan DSSA, dengan produksi batu bara 54,9 juta ton dan cadangan 0,84 miliar ton. Arus kasnya kini dialihkan ke aset-aset yang secara struktural punya margin lebih tinggi dan stabil.
Ambil contoh panas bumi. Pendapatan segmen ini diproyeksikan meledak dari US$316.900 pada FY25 menjadi US$83,7 juta pada FY30, seiring beroperasinya proyek di Cipanas, Cisolok-Cisukarame, Jambi, Sumatra Barat, Sulawesi Tengah, dan Nage. Adapun merger XL Axiata dan Smartfren yang melahirkan XLSmart diproyeksikan berbalik dari beban laba Rp4,4 triliun pada FY25 menjadi kontribusi positif Rp1,1 triliun pada FY27, setelah sinergi biaya operasional sekitar Rp820 miliar per tahun mulai terealisasi.
Secara konsolidasi, Pluang memproyeksikan pendapatan DSSA naik dari US$2,79 miliar pada 2025 menjadi US$5,53 miliar pada 2030, dengan laba bersih yang melompat dari US$230 juta menjadi US$752 juta. Margin bersih diperkirakan melebar dari 8,3% menjadi 13,6% dalam periode yang sama, sementara pertumbuhan laba per saham (EPS) konsisten di kisaran 28-31% per tahun. Setiap dolar arus kas batu bara yang direinvestasikan ke panas bumi atau pusat data, menurut Pluang, bernilai 2,0-2,5 kali lebih tinggi dalam nilai perusahaan. Kalau angka-angka ini bisa dipercaya, ceritanya memang menarik.
Ketika asing berbondong masuk ke DSSA, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) justru jadi emiten yang paling banyak dilepas, dengan net sell asing 538,05 juta saham. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menyusul dengan net sell 152,08 juta saham. Total, investor asing pada sesi I membukukan net buy nilai Rp220,14 miliar meski secara volume masih net sell 492,35 juta saham. Dua arah berbeda dalam satu sesi.
Katalis berikutnya yang patut dicermati adalah operasi komersial aset panas bumi dan masuknya anchor tenant untuk pusat data SM+. Dua hal itu, kalau terealisasi sesuai jadwal, bisa jadi trigger re-rating yang sesungguhnya. Pertanyaannya: sesuai jadwal atau tidak?