Kabar penghentian program langganan GoRide Hemat dan GrabBike Hemat disambut lega oleh ribuan pengemudi ojek online di berbagai kota, setelah bertahun-tahun skema tersebut dinilai menggerus penghasilan mereka tanpa kompensasi yang setimpal.
Grab dan Gojek resmi mengumumkan penutupan program ini pada Selasa (19/5/2026), masing-masing menyebut langkah ini sebagai tindak lanjut arahan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan mitra pengemudi. Direktur Utama PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk Hans Patuwo menegaskan keputusan tersebut efektif dalam waktu dekat. CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi menyebut penutupan program dilakukan guna menciptakan ekosistem yang berkelanjutan bagi seluruh pihak.
Di lapangan, reaksi driver bervariasi, meski nadanya sama: lega.
Cecep (45), pengemudi ojol di Pondok Aren, Tangerang Selatan, langsung bergembira begitu mendengar kabar ini. Tarif murah pada layanan Hemat, kata dia, membuat pendapatan driver tidak sebanding dengan biaya operasional harian. "Saya pribadi bergembira dengan keputusan Grab dan Gojek menghentikan program ini. Mudah-mudahan setelah layanan Hemat dihentikan, penghasilan driver bisa naik lagi dan lebih sesuai dengan aturan dalam Perpres," ujar Cecep saat ditemui Rabu (20/5/2026).
Rekan seprofesinya, Anjas (29), punya keluhan yang lebih spesifik. Program Hemat ternyata bukan sekadar tarif murah, tapi skema berbayar di mana driver harus merogoh kocek dulu agar bisa mengakses order hemat. Di Grab, biayanya berjenjang: Rp 3.000 untuk satu sampai dua order, naik ke Rp 8.500 untuk dua hingga empat order, dan bisa tembus Rp 20.000 per hari di angka tertinggi. "Harusnya bisa buat beli bensin, harusnya bisa buat makan, malah jadi kepotong ke aplikasi karena program hemat," kata Anjas.
Dari Jakarta, Abdul (31) punya pembacaan yang lebih hati-hati. Tidak sebanding dengan Cecep atau Anjas yang terang-terangan lega, ia justru waswas soal efek domino ke layanan lain, termasuk program "mitra jarak dekat" yang baru berjalan sekitar dua bulan. Yang lebih ia cemaskan: munculnya sistem pengganti dengan potongan lebih besar. "Kalau buat saya sih bagus Hemat diberhentiin. Cuma takutnya nanti muncul lagi yang lebih parah dari Hemat," kata Abdul saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Rabu (20/5/2026).
Ilustrasnya sederhana, tapi cukup menyentil. Dalam skema GoRide Hemat saat ini, dari tarif Rp 15.000 yang dibayar pelanggan, driver bisa mengantongi sekitar Rp 10.500. Kalau sistem berubah dan ternyata lebih gelap, bisa saja konsumen tetap bayar Rp 14.000 tapi driver cuma dapat Rp 10.400. Secara nominal mirip, rasanya jauh lebih berat.
Abdul juga menyinggung soal jarak penjemputan di layanan Hemat yang menurutnya kerap tidak masuk akal. "Kadang jarak jemputnya bisa 2 sampai 5 kilometer. Jadi bukan driver nggak mau ambil order, tapi memang kejauhan," jelasnya.
Di Bekasi, ceritanya sedikit berbeda. Tugiyat (52), mitra Gojek, justru fokus ke sisi positif penurunan potongan komisi. Pendapatannya belakangan tidak menentu, kadang hanya Rp 50.000 hingga Rp 100.000 sehari. Dengan potongan yang turun dari 20 persen menjadi 8 persen per perjalanan, ia berharap ada selisih nyata di ujung hari. Pandangan serupa disampaikan Supratman (50), pengemudi Grab di kota yang sama, yang menyebut potongan 20 persen selama ini bak batu di punggung.
Perubahan skema komisi menjadi 8 persen per perjalanan disebut sebagai tindak lanjut Perpres Nomor 27 Tahun 2026 yang mengatur ekosistem transportasi online. Abdul mengaku sudah melihat pendapatan ke mitra berubah menjadi 100 persen di aplikasinya, dari biasanya 80 persen. Tapi belum ada penjelasan resmi dari aplikator.
Pertanyaannya sekarang: apakah tarif yang lebih tinggi di sisi konsumen akan memangkas jumlah order? Itu yang paling mengkhawatirkan Anjas. Layanan hemat memang mencekik driver, tapi ia juga tidak ingin kehilangan pelanggan yang selama ini tergiur tarif murah. "Harapannya hemat dihapus, tapi orderan tetap ada terus," ucapnya. Kalimat pendek, dilema yang tidak.