Dow Jones Industrial Average menutup sesi Kamis 4 Juni dengan kenaikan 874,86 poin atau 1,73 persen ke level 51.561,93, rekor penutupan tertinggi dalam sejarah indeks ini. Pencapaian itu datang bersamaan dengan babak belurnya sektor semikonduktor, dipimpin koreksi tajam Broadcom.
Harapan meredanya eskalasi militer di Timur Tengah jadi bahan bakar utama reli ini. DPR Amerika Serikat pada Rabu pekan ini meloloskan regulasi yang berpotensi membatasi kewenangan Presiden Donald Trump untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran. Bersamaan, kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang dimediasi Washington memunculkan optimisme baru di kalangan investor. Bak gayung bersambut, sentimen itu langsung terpantul ke harga aset berisiko.
S&P 500 ikut menguat 30,63 poin atau 0,41 persen ke 7.584,31. Nasdaq Composite, satu-satunya yang tak kebagian pesta, tergelincir 23,02 poin atau 0,09 persen ke 26.830,96, terseret keruntuhan Broadcom.
Broadcom ambles 12,6 persen setelah pendapatan kuartalannya meleset dari ekspektasi analis. Ini bukan saham biasa. Sepanjang tahun berjalan, saham-saham semikonduktor sudah melesat lebih dari 92 persen, ditopang euforia kecerdasan buatan yang nyaris tak terbendung, dan koreksi sekecil apapun di nama-nama besar sektor ini langsung terasa di Nasdaq. AMD, Micron, dan Qualcomm ikut tergerus antara 2,6 persen hingga 7,7 persen. Marvell Technology jadi pengecualian langka, naik 4,9 persen.
"Titik rapuh pasar sesi ini terutama berasal dari Broadcom," ujar Paul Nolte, Senior Wealth Adviser dan Market Strategist di Murphy & Sylvest. Keyakinan investor terhadap prospek industri semikonduktor sebetulnya masih solid, tapi pertanyaan soal valuasi yang sudah kelewat mahal mulai mengganggu kenyamanan. Banyak pelaku pasar, kata Nolte, justru memanfaatkan koreksi ini untuk masuk di harga yang lebih menarik. Momentum yang, kalau data ini bisa dipercaya, tidak datang dua kali.
Optimisme geopolitik juga merambat ke pasar energi. Harga minyak mentah melemah setelah investor memperkirakan lalu lintas tanker di Selat Hormuz bisa kembali normal lebih cepat dari dugaan semula. Jangan keburu lega. Hizbullah yang didukung Iran secara tegas menolak kesepakatan gencatan senjata dan menyatakan tidak akan menarik pasukannya dari Lebanon. Jalan menuju stabilitas kawasan agaknya masih berliku.
Nolte sendiri memilih hati-hati. "Berapa banyak kesepakatan yang sudah tercapai? Selalu ada sesuatu yang tampak tepat di depan kita, tapi belum benar-benar bisa diraih," ungkapnya. Pertanyaannya, seberapa cepat semua ini bergerak menuju kondisi normal, dalam hitungan minggu, bulan, atau bahkan tahun.
Dari sisi ekonomi makro, ada sinyal yang patut dicermati. Klaim awal tunjangan pengangguran melonjak 6,1 persen, melampaui proyeksi pasar. Revisi data biaya tenaga kerja dan produktivitas kuartal pertama juga menunjukkan penurunan yang cukup substansial. Dua angka ini, entah kebetulan atau tidak, memberi gambaran serupa: pasar tenaga kerja AS mulai kehilangan momentum. Variabel yang bisa mengubah kalkulasi Federal Reserve lebih cepat dari yang pasar antisipasi.
Dow Jones boleh pesta rekor malam ini. Tapi dengan data tenaga kerja yang mulai goyah dan sektor chip yang baru saja diingatkan bahwa valuasi tinggi ada batas wajarnya, euforia ini layak disambut dengan kepala dingin.