Rupiah parkir di level Rp 17.804 per dollar AS pada Selasa (26/5/2026), melemah tipis dari Rp 17.796 sehari sebelumnya. Bagi sebagian eksportir, angka itu seharusnya kabar baik. Tapi bagi industri mebel dan kerajinan nasional, kalkulasinya tidak sesederhana itu.
Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, mengakui ada keuntungan teoritis dari penguatan dollar: pendapatan ekspor masuk dalam greenback, sementara sebagian besar biaya produksi masih berbasis rupiah. Selisih kurs itu, secara hitungan di atas kertas, mestinya menambah margin.
Tapi jangan terlalu nyaman dulu. "Realitanya saat ini situasinya tidak sesederhana 'dollar naik berarti industri untung'," kata Sobur kepada Kompas.com, Rabu (27/5/2026). Kenaikan dollar hampir selalu datang berbarengan dengan lonjakan biaya impor, mulai dari bahan pendukung, mesin produksi, komponen tertentu, bahan finishing, sampai ongkos logistik internasional yang semuanya juga berdominasi dollar. Margin tambahan dari selisih kurs pun habis digerus dari sisi lain.
Ada sisi yang lebih mengkhawatirkan. Penguatan dollar yang dipicu perlambatan ekonomi global atau suku bunga tinggi di negara maju justru berpotensi menekan permintaan furnitur di pasar tujuan ekspor. Furnitur bukan kebutuhan primer. Masuk kategori discretionary spending, dan ketika daya beli konsumen Amerika atau Eropa terjepit, sofa dan lemari bisa dengan mudah ditunda pembeliannya. Kurs yang menguntungkan di sisi pasokan bisa langsung dinetralkan oleh permintaan yang menyusut di sisi hilir.
"Penguatan dollar mungkin memberi sedikit ruang napas, tetapi belum tentu menjadi angin segar yang benar-benar mengubah kondisi industri secara fundamental," ungkap Sobur.
Vietnam jadi cermin yang agak menyakitkan. Negara itu kini bercokol sebagai salah satu eksportir furnitur terkuat di dunia, bukan karena dong-nya melemah terhadap dollar, tapi karena kepastian kebijakan, kecepatan layanan, ekosistem industri pendukung yang solid, dan produktivitas yang terukur. "Vietnam sering kali lebih unggul bukan karena kurs mata uangnya, tetapi karena kepastian kebijakan, kecepatan layanan, dukungan industri pendukung, dan produktivitas yang sangat terukur," tegas Sobur. Semuanya faktor struktural. Bukan faktor kurs.
Itulah yang HIMKI tagih dari pemerintah: kepastian regulasi dan penguatan daya saing jangka panjang. Produktivitas, efisiensi produksi, inovasi desain, kualitas SDM. Daftar yang, agaknya, sudah terlalu sering dibacakan di forum-forum industri tanpa eksekusi yang terasa di lapangan.
"Industri tidak bisa menggantungkan daya saing pada pelemahan rupiah. Kurs sebaiknya hanya dilihat sebagai bonus kecil, bukan strategi utama bisnis," tegas Sobur.
Bonus kecil. Bukan strategi. Kalimat pendek yang cukup telak untuk menggambarkan di mana industri mebel Indonesia berdiri hari ini.