SENIN, 12 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Disney+ Lirik Model Gratis Berbasis Iklan, Konten...

Tekno

Disney+ Lirik Model Gratis Berbasis Iklan, Konten Marvel dan Star Wars Tetap Dikunci Paywall

Disney tengah menjajaki tier gratis berbasis iklan untuk Disney+, mengikuti jejak Spotify dan Tubi. Tapi jangan harap bisa nonton Iron Man atau The Mandalorian tanpa bayar.

Wamenkomdigi: Mineral Kritis Indonesia Bisa Jadi Instrumen Diplomasi Digital

Diam-diam, Disney sedang menyiapkan skenario yang bisa mengubah peta persaingan streaming: tier gratis Disney+ yang didanai iklan, tanpa biaya langganan sepeser pun bagi penonton.

Gagasan ini pertama kali mencuat dari sebuah pertemuan internal. Adam Smith, Chief Product and Technology Officer Disney, berdiskusi langsung dengan karyawan soal kemungkinan membuka akses gratis ke platform. Business Insider yang pertama melaporkan hal ini juga menegaskan bahwa belum ada keputusan final, namun ide tersebut agaknya cukup serius untuk terus dikaji.

Modelnya mirip Pluto TV atau Tubi. Dua platform streaming gratis yang bertahan hidup dari pendapatan iklan. Bedanya, ini Disney, dengan katalog konten yang jauh lebih dalam dan IP yang jauh lebih berharga.

Konten flagship tidak akan masuk paket gratis. Waralaba Star Wars, semesta Marvel, dan properti premium lainnya kemungkinan besar tetap dikunci di balik paywall. Logikanya sederhana: Disney harus memastikan pelanggan berbayar masih mendapat sesuatu yang tidak bisa didapat gratis. Kalau semua konten terbaik bisa diakses tanpa bayar, siapa yang mau berlangganan?

Angka-angka di balik pertimbangan ini cukup menarik. Disney+ saat ini mencatatkan 131,6 juta pelanggan secara global, dengan tambahan 7 juta pelanggan inti sepanjang tahun fiskal 2025. Tren penurunan pasca-pandemi yang sempat menghantui platform ini agaknya mulai berbalik. Di kawasan AS dan Kanada saja, basis pelanggan diperkirakan menyentuh 54 hingga 56 juta. Yang lebih relevan: 30% dari seluruh pelanggan inti Disney+ sudah memilih tier Basic dengan iklan. Bukan angka kecil, dan cukup untuk membuktikan bahwa pasar penonton yang toleran terhadap iklan memang ada.

Pertanyaannya, apakah Disney berani mendorong angka itu lebih jauh?

Konteks lain yang mendorong wacana ini adalah penutupan celah T-Mobile. Pelanggan dengan paket premium seperti Go5G Next sebelumnya bisa menumpuk langganan Hulu gratis yang di-bundle dengan Disney+. Celah itu kini sudah ditutup. Mereka harus membayar penuh, dan bagi sebagian konsumen, ini jadi titik balik untuk mempertimbangkan ulang apakah langganan streaming masih sepadan.

Harga paket Disney+ di AS memang tidak murah. Bundle Disney+ dan Hulu dengan iklan dibanderol $12,99 per bulan, sementara versi tanpa iklan naik ke $18,99. Paling atas, paket yang menggabungkan Disney+, Hulu, dan ESPN Unlimited bisa mencapai $44,99 per bulan. Bukan angka ringan, terutama di tengah tekanan daya beli konsumen Amerika yang belum sepenuhnya pulih.

Preseden paling relevan datang dari Spotify. Platform audio itu mengelola 761 juta pengguna global: 483 juta di antaranya pengguna gratis yang ditopang iklan, sisanya 293 juta pelanggan berbayar. Model freemium Spotify membuktikan bahwa basis pengguna gratis yang masif bisa menjadi mesin iklan yang menguntungkan, sekaligus corong konversi ke tier berbayar. Bak gayung bersambut, Disney punya semua bahan untuk mereplikasi formula itu.

Kekuatan brand, katalog konten yang luas untuk paket gratis, dan properti premium yang cukup memikat untuk membuat orang mau upgrade. Masif, kalau berhasil. Pertanyaannya bukan apakah model ini akan berhasil, tapi seberapa jauh Disney berani membuka akses tanpa menggerus nilai langganan berbayarnya.