Ada yang mengganjal dari pernyataan resmi PT Pos Indonesia soal pengunduran diri Direktur Utama Daud Joseph, Kamis (2/7). Perusahaan pelat merah ini berkeras bahwa kepergian Daud murni karena alasan pribadi, bukan imbas dari isu yang jauh lebih panas: puluhan ribu pegawai aktif dan pensiunan yang kabarnya belum menerima gaji hari itu.
Daud Joseph baru duduk di kursi Dirut Pos Indonesia sejak Maret 2026, kurang dari empat bulan lalu. Sebelumnya, ia menjabat Direktur Operasional dan Keselamatan Transjakarta. Karier barunya di BUMN logistik ini ternyata tidak bertahan lama.
Corporate Secretary PT Pos Indonesia Iwan Gunawan membenarkan pengunduran diri tersebut. "Direktur Utama Daud Joseph telah menyampaikan permohonan pengunduran diri dari jabatannya. Perseroan menghormati keputusan tersebut," ungkap Iwan. Proses transisi kepemimpinan, ia pastikan, akan dijalankan sesuai tata kelola perusahaan yang berlaku, tanpa mengganggu operasional.
Soal gaji yang tertahan, manajemen memilih kalimat yang hati-hati. Keputusan Daud Joseph "tidak berkaitan" dengan isu keterlambatan pembayaran gaji puluhan ribu pegawai aktif dan pensiunan yang ramai diperbincangkan. Bantahan yang terasa perlu disampaikan itu justru mengonfirmasi bahwa isu tersebut sudah cukup gaduh di internal. Entah kebetulan atau tidak, kedua hal ini meledak dalam satu hari yang sama.
Bagi perusahaan yang kini bernaung di bawah Danantara, timing ini agaknya tidak ideal. Pimpinan baru empat bulan langsung angkat kaki. Bersamaan dengan kabar gaji ribuan karyawan yang belum cair. Sulit untuk tidak mencermati kebetulan semacam ini.
Iwan memastikan seluruh agenda transformasi bisnis dan program strategis perusahaan tetap berjalan sesuai rencana. "PT Pos Indonesia menegaskan bahwa saat ini kondisi operasional tetap berjalan lancar dan baik. Seluruh pelaksanaan program transformasi dan agenda strategis perusahaan terus berjalan sesuai rencana perusahaan," pungkasnya. Pernyataan standar yang biasa keluar saat perusahaan ingin meredam kepanikan. Tapi justru memunculkan satu pertanyaan yang sulit dijawab: kalau semua baik-baik saja, kenapa Direktur Utamanya baru empat bulan sudah hengkang?