Selama ini orang banyak salah kaprah: dollar AS kuat, tapi bukan yang terkuat. Dalam daftar mata uang terkuat dunia versi Forbes Advisor 2026 yang dirilis awal Mei ini, dinar Kuwait (KWD) duduk di singgasana teratas, melampaui greenback yang sudah lama identik dengan dominasi finansial global.
Kuwait menjadi penguasa bukan tanpa alasan. Negara Teluk itu adalah salah satu eksportir minyak terbesar dunia, dengan cadangan devisa tebal dan sistem moneter yang dijaga ketat. Dinar Kuwait diperkenalkan pada 1960-an, sempat dipatok terhadap poundsterling, sebelum kemudian dikaitkan dengan sekeranjang mata uang internasional. Satu dinar Kuwait, hasilnya, bernilai lebih tinggi dari satu dollar AS secara nominal.
Sembilan nama berikutnya dalam daftar itu juga tidak mengejutkan. Dinar Bahrain di posisi kedua, rial Oman ketiga, dinar Yordania keempat. Pola yang sama berulang: negara-negara Timur Tengah yang hidup dari ekspor energi dan mengikat mata uangnya ke dollar AS. Poundsterling Inggris menjadi satu-satunya mata uang "tua" yang masuk daftar tanpa keterikatan peg, bergerak murni mengikuti mekanisme pasar sejak abad ke-15. Melengkapi sepuluh besar: Gibraltar pound, dollar Kepulauan Cayman, franc Swiss sebagai safe haven klasik, euro, dan dollar AS di posisi kesepuluh.
Nominal dan dominasi adalah dua hal berbeda. Dollar AS memang bukan yang tertinggi nilai satuannya, tapi ia tetap menguasai sistem keuangan dunia secara struktural. Sebagian besar perdagangan minyak global bertransaksi dalam dollar. Bank sentral di hampir setiap sudut dunia menyimpan cadangan devisa dalam greenback. Itulah sebabnya permintaan terhadap dollar tidak pernah benar-benar amblas, apapun yang terjadi di Washington.
Rupiah masuk ke daftar yang lebih tidak nyaman dibaca. Data terkini menempatkannya di posisi keenam mata uang paling tertekan terhadap dollar AS, dengan nilai sekitar Rp17.460 per dolar. Bukan yang terlemah. Rial Iran masih paling dalam jurangnya, butuh lebih dari 1,3 juta rial untuk satu dollar. Pound Lebanon, dong Vietnam, leone Sierra Leone, dan kip Laos masing-masing ada di atas rupiah dalam daftar itu.
Tapi posisi keenam bukan pencapaian yang layak dirayakan.
Angka nilai tukar saja tidak otomatis mencerminkan kondisi ekonomi suatu negara, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya. Inflasi jangka panjang, sejarah redenominasi, kebijakan moneter, hingga dinamika pasar global semuanya ikut membentuk angka itu. Vietnam, dengan dong-nya yang 26.000-an per dollar, tetap tumbuh pesat sebagai hub manufaktur Asia Tenggara. Konteks tetap penting.
Namun tekanan dolar terhadap rupiah bukan sekadar statistik. Di balik angka Rp17.460 itu ada beban impor yang lebih mahal, biaya utang luar negeri yang menggelembung, dan daya beli yang diam-diam tergerus. Pertanyaannya, berapa lama rupiah masih sanggup bernegosiasi dengan tekanan ini? Faktor-faktor penentu pada dasarnya sama di mana-mana: inflasi, suku bunga, posisi transaksi berjalan, rasio utang, stabilitas politik. Indonesia punya pekerjaan rumah di beberapa dari faktor itu.
Bagi pemegang aset berbasis rupiah, ini bukan momen untuk panik, tapi juga bukan waktu yang tepat untuk abai. Selisih antara mata uang terkuat dan yang paling tertekan kini terbentang lebih lebar dari sebelumnya. Rupiah, agaknya, belum selesai.