SENIN, 5 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Demam AI Sedot Modal Global, Sektor Teknologi RI J...

Bisnis

Demam AI Sedot Modal Global, Sektor Teknologi RI Justru Terkapar

Di saat Wall Street ditopang euforia AI dan raksasa teknologi global rebutan modal miliaran dolar, IDXTechno malah terjerembab minus 31,66% sepanjang 2026. Ada jurang yang lebar antara narasi global dan realita di Bursa Efek Indonesia.

Sepanjang semester pertama 2026, pasar modal global seperti sedang dirasuki satu kata: AI. SpaceX resmi melantai di Nasdaq pada 12 Juni dan kapitalisasi pasarnya langsung melampaui USD 2 triliun, setara lebih dari Rp32.000 triliun. Nvidia bersiap menerbitkan obligasi korporasi senilai USD 25 miliar untuk memperkuat amunisi belanja modal. OpenAI dan Anthropic, dua pemain model bahasa terbesar, dikabarkan tengah menimbang IPO yang bisa terealisasi tahun ini atau paling lambat 2027. Rantai pasokan AI global, dari chip sampai pusat data, sedang dalam mode agresif berburu likuiditas.

Hanya saja, pesta itu tidak merambat ke Jakarta.

IDXTechno, indeks saham sektor teknologi di Bursa Efek Indonesia, ditutup di level 6.511 pada Senin (7/7/2026), naik 0,92% dalam sehari. Kenaikan sesaat yang tidak mengubah gambaran besar: sepanjang tahun 2026, indeks ini masih tergerus 31,66% secara year-to-date, menjadikannya koreksi terdalam kedua setelah indeks sektor energi yang amblas 39,11%. Indeks properti, infrastruktur, dan kesehatan juga babak belur, tapi IDXTechno punya ironi tersendiri karena justru sektor inilah yang sedang naik daun di bursa-bursa lain.

"Kontras dengan pasar global di mana banyak indeks utama justru ditopang oleh sektor teknologi AI, semikonduktor, dan pusat data," ujar Kepala Riset PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, Senin (8/7/2026). Liza menilai emiten teknologi lokal masih terjebak di pusaran isu yang berbeda dari narasi global: efisiensi biaya, persaingan ketat, dan restrukturisasi tenaga kerja.

Datanya memang bicara sendiri. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) melakukan pemutusan hubungan kerja hingga 90% karyawan pada Juli 2026. PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) memutus kontrak 270 karyawan pada November 2025. PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) lebih dramatis lagi: dalam rentang satu tahun, jumlah karyawannya anjlok dari 1.018 orang menjadi 424 orang. Bukan efisiensi yang terencana indah. Ini lebih terasa seperti survival mode.

Konteks makro yang mengelilingi situasi ini juga tidak membantu. Bank for International Settlements (BIS) sudah memperingatkan bahwa euforia AI di pasar keuangan global berpotensi berakhir lebih buruk dari krisis 2008 jika valuasi tidak tertopang fundamental yang solid. Pertanyaan soal apakah inflasi berbasis AI bersifat sementara atau struktural belum terjawab. Sementara itu, likuiditas global terus mengalir deras ke ekuitas teknologi Amerika Serikat dan rantai semikonduktor Asia Timur, bukan ke bursa berkembang seperti Indonesia.

Hasilnya terlihat di angka-angka. BEI mencatat net foreign sell sebesar Rp190,90 miliar di seluruh pasar pada Senin kemarin, dengan tekanan di pasar reguler mencapai Rp163,01 miliar. Secara year-to-date 2026, total net foreign sell sudah menembus Rp74,60 triliun. Masif. Uang itu pergi ke mana? Agaknya sebagian besar mengarah ke aset yang punya cerita AI lebih meyakinkan.

SK Hynix dari Korea Selatan berencana menerbitkan American Depositary Receipts di AS, mengonfirmasi bahwa seluruh rantai pasokan semikonduktor global sedang konsolidasi modal di pusat-pusat keuangan barat. Di BEI, emiten semikonduktor seperti PT Pelita Teknologi Global Tbk (CHIP) dan PT Sat Nusapersada Tbk (PTSN) bermain di segmen yang jauh berbeda, yakni cip kartu SIM dan perakitan kontrak, bukan high-bandwidth memory untuk training model AI.

IHSG sendiri ditutup menguat tipis 0,69% ke level 5.916,07 pada hari yang sama, sebuah reli kecil yang bisa jadi sekadar technical bounce. Selama narasi global masih soal siapa yang paling banyak berinvestasi di infrastruktur AI, emiten teknologi domestik yang masih bergulat dengan pertanyaan dasar soal profitabilitas akan kesulitan menarik perhatian investor asing. Pertanyaannya, berapa lama jurang antara cerita dan realita itu akan membiarkan dirinya menganga?