KAMIS, 8 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Debut BACH di BEI Langsung ARA, Bidik Pendapatan R...

Finansial

Debut BACH di BEI Langsung ARA, Bidik Pendapatan Rp 3 Triliun di 2030

PT Bach Multi Global Tbk (BACH) mencatatkan saham perdana di BEI pada Rabu (8/7/2026) dan langsung menyentuh batas ARA. Manajemen optimistis target pendapatan Rp 3 triliun pada 2030 bisa tercapai lewat bisnis power system dan infrastruktur telekomunikasi.

Saham BACH Langsung ARA, Perusahaan Pasang Target Pendapatan Rp 3 Triliun

Debut yang tidak mengecewakan. PT Bach Multi Global Tbk (BACH) resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada Rabu (8/7/2026) dan langsung disambut aksi beli agresif yang menempel sahamnya ke batas auto rejection atas sejak menit pertama sesi pembukaan pukul 09.00 WIB, dan bertahan di sana hingga sesi kedua ditutup.

Dalam IPO-nya, BACH melepas 615 juta saham baru atau setara 15,06 persen dari total modal ditempatkan dan disetor penuh pasca-IPO, dengan harga penawaran Rp 442 per saham. Total dana yang diraup mencapai Rp 271,83 miliar. Modal segar yang agaknya langsung memberi kepercayaan diri bagi manajemen untuk bicara target besar.

Target besar itu: pendapatan Rp 3 triliun pada 2030, ditopang dua lini bisnis utama, sistem kelistrikan dan infrastruktur telekomunikasi. Direktur Utama BACH Budi Kurniawan menyebut angka tersebut bukan sekadar angan-angan. "Kita sangat optimis karena kita melihat juga dari sisi pertumbuhan ekonomi di Indonesia maupun lini bisnis kita di power system, maupun di infrastruktur telekomunikasi yang merupakan kebutuhan dasar masyarakat," ujar Budi dalam konferensi pers usai pencatatan perdana di Gedung BEI.

Bagi yang mempertanyakan dasar angka tersebut, Direktur BACH Hasby Jap punya jawabannya. Pendapatan perseroan tumbuh sekitar 39 persen antara 2023 dan 2024, lalu kembali melonjak sekitar 25 persen di periode 2024 hingga 2025. Dengan tren itu, target pertumbuhan rata-rata 12 persen per tahun hingga 2030 terasa moderat, bukan ambisius. "Dua belas persen itu sangat moderat ya," tegas Hasby. Klaim yang, kalau data ini bisa dipercaya, memang terhitung masuk akal secara historis.

Soal risiko nilai tukar, manajemen mengaku tidak bisa tutup mata. Mitigasinya dua jalur: menaikkan harga jual dan menerapkan strategi hedging. Budi mengakui fluktuasi kurs adalah risiko eksternal yang tak bisa dihindari sepenuhnya, tapi instrumen sudah disiapkan untuk meredam dampaknya.

Untuk 2026, optimisme ditopang backlog proyek dan order yang sudah di tangan. Bottom line perseroan pun diyakini ikut terkerek tahun ini. Entah kebetulan atau tidak, pernyataan itu keluar tepat di hari saat saham BACH nyaris tidak bisa dibeli karena terus menempel di level ARA.

Bagi investor ritel yang nyangkut di antrean beli hari ini dan tidak kebagian, pertanyaan yang lebih penting mungkin adalah: apakah momentum ARA di hari pertama ini bisa bertahan, atau hanya eforia sesaat yang lumrah terjadi di setiap IPO hot? Rekam jejak emiten konstruksi dan infrastruktur di BEI menunjukkan keduanya sama-sama mungkin terjadi.