MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  DBS: Indonesia Masih Resilien, Tapi Energi dan Geo...

Bisnis

DBS: Indonesia Masih Resilien, Tapi Energi dan Geopolitik Bisa Jadi Bumerang

Di tengah rupiah yang tertekan dan harga energi global yang melonjak, DBS Research Group menilai perekonomian Indonesia masih cukup tangguh, meski kepercayaan pasar mulai mendingin sejak Maret 2026.

DBS Research Group: Perekonomian Indonesia Masih Resilien di Bawah Pelemahan Rupiah

Rupiah tergerus, harga minyak merangkak, dan konflik di Timur Tengah belum ada tanda-tanda reda. Tapi DBS Research Group menilai Indonesia belum perlu masuk mode darurat.

Dalam paparan yang digelar Rabu (13/5), DBS menyebut perekonomian Indonesia cukup resilien meski tekanan eksternal datang bertubi-tubi. Bukan tanpa catatan. William Simadiputra, Senior Vice President DBS Vickers Securities, mengakui kepercayaan diri pasar domestik mulai meredup sejak Maret 2026. Penyebabnya sudah bisa ditebak: eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat membuat investor semakin was-was menaruh cuan di aset berisiko.

"Secara keseluruhan kepercayaan pasar domestik masih tinggi, walau tingkatnya menurun sejak Maret akibat kekhawatiran investor terhadap perang," kata Simadiputra.

Ketegangan geopolitik itu bukan sekadar drama di berita malam. Dampaknya terasa langsung ke harga energi global, dan negara-negara yang bergantung pada impor minyak, termasuk Indonesia, kini mulai mengencangkan ikat pinggang. Sebagian bahkan sudah masuk mode berhemat ketat, memangkas konsumsi energi sambil menunggu alternatif yang belum jelas kapan siapnya.

Pedang bermata dua. Kenaikan harga komoditas energi memang bisa menguntungkan eksportir batu bara dan gas Indonesia. Tapi beban subsidi energi domestik berpotensi membengkak kalau harga minyak global terus merangsek naik, dan tekanan ke APBN tidak bisa dikesampingkan begitu saja.

Rupiah yang amblas cepat menambah kerumitan. Pelemahan nilai tukar secara langsung mengerek biaya impor minyak yang masih didenominasi dolar. Bukan angka kecil, mengingat Indonesia masih net importer minyak mentah.

DBS tetap pasang outlook konstruktif untuk Indonesia, dengan syarat risiko-risiko tadi dikelola dengan kepala dingin. Pasar keuangan domestik, kata mereka, masih punya fondasi yang cukup untuk menyerap guncangan jangka pendek. Pertanyaannya, sampai kapan? Kalau eskalasi di Timur Tengah berlanjut dan harga energi global tak kunjung jinak, ketahanan itu bisa diuji jauh lebih keras dari yang pasar perhitungkan sekarang.