Sufmi Dasco Ahmad memilih Selasa pagi untuk menyambangi jantung pasar modal Indonesia, tepat ketika IHSG dibuka di kisaran 6.500-an dan rupiah sudah lama bikin pelaku pasar gelisah.
Sekitar pukul 10.27 WIB, Wakil Ketua DPR RI itu tiba di gedung Bursa Efek Indonesia, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat. Tidak datang sendiri. CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani ikut mendampingi, begitu pula Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria dan Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi. Rombongan langsung naik ke ruangan atas untuk berdiskusi tertutup dengan pimpinan bursa.
Apa yang dibahas? Dasco mengaku banyak berdiskusi soal cara meyakinkan investor global agar tetap, atau justru mulai, masuk ke pasar saham Indonesia. "Kami tadi sudah banyak berdiskusi bagaimana kita meyakinkan untuk menguatkan investor global yang akan masuk di bursa dan sekarang di bursa," kata Dasco dalam konferensi pers usai pertemuan. Pernyataan yang terdengar cukup generik, tapi konteksnya tidak bisa dikesampingkan: sejak awal 2025, IHSG sudah amblas 24%. Bukan koreksi biasa.
Saat perdagangan berlangsung pagi itu, IHSG sempat tergerus ke 6.565,30 sebelum berbalik tipis ke zona hijau di sekitar 6.604. Angka-angka itu mencerminkan pasar yang masih gamang, bukan yang sedang pulih dengan percaya diri.
Usai dari BEI, Dasco sempat menyatakan niatnya mampir ke Bank Indonesia untuk membahas soal rupiah. "Kalau rupiah, kita abis ini mau ke BI," ujarnya singkat. Kurs memang sedang suram: rupiah ditutup di Rp17.706 per dolar AS sore itu, melemah 38 poin atau 0,22% dibanding hari sebelumnya. Menembus Rp17.700 agaknya cukup serius untuk membuat politisi senior DPR merasa perlu turun tangan langsung.
Tapi kunjungan itu batal. Dasco dijadwalkan tiba di BI sekitar pukul 14.00 WIB, namun hingga pukul 17.00 tidak ada tanda-tanda kedatangan. Tidak ada penjelasan resmi. Justru ketiadaan penjelasan itulah yang mengundang tanda tanya lebih besar dari kunjungannya sendiri.
Bagi investor ritel, dua peristiwa hari ini mungkin terasa kontradiktif: ada pejabat tinggi yang datang ke BEI dan berbicara soal memperkuat kepercayaan investor global, namun rupiah masih tertekan dan rencana koordinasi dengan bank sentral pun batal tanpa kejelasan. Pasar tidak butuh kunjungan. Pasar butuh sinyal konkret. Hari ini, sinyal itu belum datang.