Persaingan smartphone gaming pada 2026 sudah tidak bisa lagi dijelaskan dengan satu angka chipset. Produsen kini berlomba di medan yang lebih luas: efisiensi pendinginan, ketahanan baterai saat sesi marathon, kualitas layar di bawah sinar matahari, hingga seberapa nyaman perangkat itu digenggam tiga jam nonstop saat Mobile Legends sedang memanas.
Yang menarik, pertarungan ini bukan lagi monopoli kelas Rp20 jutaan ke atas. Segmen harga Rp3 jutaan ikut mendidih, dengan Xiaomi, Realme, dan sejumlah merek Tiongkok lainnya mulai menyematkan chipset seperti MediaTek Dimensity 8350 Ultimate dan Snapdragon 7 Gen 3 ke perangkat yang setahun lalu mustahil dapat chipset sekelas itu. Skor AnTuTu di kisaran 400.000 hingga 1,4 juta poin kini bukan milik flagship semata.
Tapi untuk yang benar-benar tidak mau kompromi, empat nama ini masih mendominasi percakapan.
Asus ROG Phone 9 Pro tetap jadi patokan gamer kompetitif. Fitur AirTrigger-nya, tombol bahu tambahan yang cara kerjanya mirip gamepad, bukan sekadar gimmick. Bagi pemain FPS dan battle royale, kontrol ekstra ini bisa jadi penentu menang-kalah. Layar 165Hz-nya terasa sangat mulus, dan dengan dukungan sistem pendinginan AeroActive Cooler, suhu chipset relatif terjaga bahkan di sesi bermain panjang. Harganya memang bikin dompet berpikir dua kali, mulai Rp12,7 juta hingga hampir Rp30 juta tergantung konfigurasi memori, tapi segmentasinya memang bukan untuk semua orang.
Nubia RedMagic 11 Pro memilih jalur berbeda. Alih-alih mengandalkan aksesori pendingin eksternal, perangkat ini menanam kipas aktif langsung di dalam bodinya. Konsistensi performa jadi lebih stabil karena panas tidak sempat menumpuk dan memicu throttling. Satu keunggulan yang agaknya kurang disorot: layarnya bebas notch dan punch-hole karena kamera depan disembunyikan di bawah panel. Bagi gamer yang tidak ingin ada gangguan visual saat bermain, ini bukan detail kecil. Dibanderol mulai Rp17 jutaan hingga sekitar Rp23 juta.
iQOO 15 menjadi nama yang paling masuk akal untuk mayoritas konsumen. Chipset flagship, baterai jumbo, desain yang tidak teriak "ini ponsel gaming" sehingga tetap presentable di rapat Zoom, semuanya tersedia di harga mulai Rp12,9 juta. Rasio harga-performa perangkat ini, jujur saja, sulit ditandingi di rentang harganya. Bukan main.
Samsung Galaxy S26 Ultra bermain di lapangan yang berbeda. Bukan ponsel gaming dalam pengertian sempit, tapi performanya cukup untuk melibas Genshin Impact dan Call of Duty Mobile di pengaturan tertinggi tanpa keringat. Nilai jualnya ada di keseimbangan: kamera flagship, layar premium, ekosistem produktivitas Samsung, sekaligus kemampuan gaming yang tidak memalukan. Mulai Rp24,4 juta hingga hampir Rp32 juta, ini adalah pilihan bagi pengguna yang tidak mau gonta-ganti ponsel untuk kebutuhan berbeda.
Kembali ke segmen bawah. Layar AMOLED dengan refresh rate 120Hz hingga 144Hz sudah mulai jamak di kelas Rp3 jutaan. Chipset yang setahun lalu hanya bisa ditemukan di ponsel Rp8 jutaan ke atas kini tergeser turun ke harga yang lebih terjangkau. Komunitas gamer mobile Indonesia yang besar dan aktif, kalau data ini bisa dipercaya sebagai indikator, agaknya menjadi alasan kuat bagi produsen untuk terus mendorong batas kemampuan di segmen ini.
Pertanyaannya sudah bergeser. Bukan lagi "apakah ada HP gaming bagus di harga segitu?" melainkan "mana yang paling pas buat gue?" Untuk 2026, jawabannya tersedia di hampir setiap rentang anggaran.