SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Dari Jogja ke Generasi Muda: Gelombang Literasi Ke...

Finansial

Dari Jogja ke Generasi Muda: Gelombang Literasi Keuangan Makin Nyata

Jogja Financial Festival 2026 membuktikan bahwa edukasi keuangan bisa menggerakkan aksi nyata, sementara industri asuransi pun mulai agresif membidik segmen anak muda sebagai pasar berikutnya.

Oleh-Oleh Jogja Financial Festival 2026: Ilmu Perbankan & Tabungan

Sabtu pekan lalu, lantai Jogja Expo Center di Bantul ramai bukan kepalang. Usai sesi Business Talk "The Bankers" di Jogja Financial Festival 2026 rampung, para peserta langsung menyerbu booth bank-bank yang berjejer di arena pameran. Pelajar SMA, mahasiswa semester awal, bahkan yang belum pernah punya rekening sekalipun.

Alia, mahasiswi baru asal Sleman, pulang dengan buku tabungan baru di tangan. Dia datang karena penasaran, tapi keluar dengan rekening aktif dan doorprize kipas dari booth yang dia kunjungi. Agaknya bukan kebetulan. Desain acara memang sengaja dirancang agar edukasi langsung berbuah transaksi, dan hasilnya terlihat di lorong-lorong pameran sore itu.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Hery Gunardi, yang tampil sebagai salah satu pembicara di sesi tersebut, menyambutnya positif. "Literasi keuangan yang dibuat dan mengundang perbankan sangat positif," katanya saat ditemui di JEC usai acara. Bukan basa-basi, karena Hery sendiri membawakan materi cukup padat soal transformasi industri perbankan di hadapan ratusan peserta.

Dalam paparannya, Hery mengurai evolusi perbankan: dari era bank 1.0 yang mengandalkan cek dan giro, bank 2.0 dengan kemunculan ATM, bank 3.0 yang membawa internet banking, hingga bank 4.0 yang kini berpijak pada fintech dan digitalisasi. Ia mengutip Brett King, penulis terkemuka di bidang perbankan, yang menyebut bahwa bank modern sejatinya adalah perusahaan teknologi yang kebetulan punya lisensi bank. Provokatif? Iya. Tapi susah dibantah.

Pandemi Covid-19, menurut Hery, menjadi katalis yang mempercepat digitalisasi perbankan secara dramatis. Mengutip data Bank Indonesia, ada 50 juta hingga 60 juta pengguna baru internet banking dan mobile banking selama periode pandemi. Masif. Mereka yang tadinya gagap teknologi pun akhirnya terpaksa belajar mobile banking karena tak ada pilihan lain: ATM tutup, cabang tak bisa dikunjungi, teller pun tidak.

"Bank harus mengubah cara kerja hingga pelayanan kepada nasabah. Bukan hanya digitalisasi, bukan hanya otomasi, tetapi juga terkait dengan sekarang ada AI dan Gen AI. Kalau itu tidak diubah, bank akan ditinggalkan oleh customer-nya," tegas Hery dalam sesi tersebut.

Sejalan dengan semangat menyasar generasi muda ini, dari sisi asuransi pun mulai ada gerakan serupa. PT Asuransi Kredit Indonesia atau Askrindo dilaporkan tengah memperluas pangsa pasar dengan membidik segmen generasi muda sebagai target strategis berikutnya. Masuk akal, mengingat penetrasi asuransi di Indonesia masih jauh tertinggal dibanding negara-negara tetangga.

Dua gerakan ini mencerminkan satu tren yang sama: industri jasa keuangan sadar bahwa generasi berikutnya tidak akan datang sendiri ke kantor cabang. Mereka harus dijemput, entah lewat festival, aplikasi, atau doorprize kipas di booth pameran.

Pertanyaannya tinggal satu. Seberapa dalam edukasi itu benar-benar meresap, dan bukan sekadar euforia sesaat yang menguap begitu peserta keluar dari gedung.