SABTU, 26 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Danantara Konsolidasi 45 Hotel BUMN, InJourney Inc...

Bisnis

Danantara Konsolidasi 45 Hotel BUMN, InJourney Incar Posisi Operator Terbesar Kedua di Indonesia

Sebanyak 45 hotel BUMN resmi menandatangani CSPA untuk bergabung di bawah pengelolaan InJourney Hospitality. Danantara menargetkan total 120 hotel, cukup untuk menjadikan InJourney operator hotel terbesar kedua di Indonesia.

Danantara Satukan 45 Hotel BUMN, InJourney Siap Gaet Investor Strategis

Proses konsolidasi aset perhotelan negara akhirnya bergerak ke fase konkret. Sebanyak 45 hotel milik sejumlah BUMN telah menandatangani Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) untuk dialihkan ke pengelolaan PT Hotel Indonesia Natour (InJourney Hospitality), anak usaha PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney.

Penandatanganan berlangsung dalam dua gelombang. Tahap pertama pada 11 Juni 2026 mencakup pengalihan unit bisnis hotel dari InJourney Group sendiri: The Manohara Hotel, Pullman Mandalika, dan lima hotel bandara yang dikelola IAS Group. Pada saat yang sama, ditandatangani pula perjanjian pengikatan jual beli saham bersyarat PT Hotel Indonesia Properti (HIPRO) sebagai bagian dari penataan struktur kepemilikan. Tahap kedua digelar 26 Juni 2026, melibatkan sembilan BUMN sekaligus: Adhi Karya, ASDP Indonesia Ferry, Garuda Indonesia, Hutama Karya, Krakatau Steel, Nindya Karya, PP (Pembangunan Perumahan), Waskita Karya, dan Wijaya Karya. Nama-nama berat semua.

Danantara belum berhenti di angka 45. Kepala BPI BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria menyebut penambahan penandatanganan dari beberapa hotel lain dijadwalkan pada awal pekan depan. Target akhirnya sekitar 120 hotel BUMN masuk ke portofolio InJourney Hospitality. Kalau itu tercapai, InJourney diproyeksikan naik jadi operator hotel terbesar kedua di Indonesia. Bukan posisi yang datang gratis.

"Penyatuan seluruh hotel BUMN di bawah payung InJourney adalah lompatan besar dalam menata ulang dan memperkuat nilai aset hospitality kita agar lebih berdaya saing," kata Dony. Skema CSPA dipilih karena mekanisme ini dinilai memungkinkan proses pengambilalihan aset berjalan hati-hati sambil tetap mengedepankan prinsip tata kelola yang baik.

Dari sisi InJourney, Direktur Utama Maya Watono menegaskan konsolidasi ini bukan sekadar operasi pemindahan aset. Masalah yang ingin diselesaikan cukup fundamental: fragmentasi brand, standar layanan yang tidak seragam, dan kinerja operasional yang belum optimal. Dengan pengelolaan terpusat, manajemen berharap setiap properti bisa mencapai potensi penuhnya. Pertanyaannya, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk benar-benar menyatukannya?

"Konsolidasi ini bukan sekadar penyatuan aset hotel, tetapi langkah transformasi untuk membangun fondasi industri hospitality Indonesia yang lebih kompetitif di tingkat global," kata Maya. Soal identitas, InJourney Hospitality ingin mengangkat keunggulan heritage Indonesia sebagai diferensiasi, bukan ikut-ikutan standar generik internasional, setidaknya begitu klaim manajemen.

Setelah konsolidasi sedikitnya 100 hotel rampung, Danantara berencana membuka pintu bagi investor strategis lewat berbagai skema kemitraan. Agaknya seluruh proses ini juga berfungsi sebagai persiapan portofolio sebelum ditawarkan ke mitra eksternal, baik domestik maupun asing. Valuasi aset yang terkonsolidasi jauh lebih menarik ketimbang properti yang tercecer di puluhan BUMN dengan manajemen masing-masing.

Bagi yang mencermati sektor pariwisata dan hospitality, ini bukan sekadar berita korporasi biasa. Konsolidasi skala ini, kalau eksekusinya tidak tersandung di tengah jalan, bisa menggeser peta persaingan industri perhotelan nasional secara nyata.