Laba bersih BUMN sepanjang 2025 mencapai Rp335 triliun, ditambah setoran pajak Rp215 triliun ke kas negara. Angka yang, agaknya, cukup untuk membungkam narasi lama bahwa perusahaan pelat merah hanya jago bakar uang.
Dony Oskaria, Chief Operating Officer BPI Danantara sekaligus Kepala Badan Pengatur BUMN, tampil di hadapan peserta Jogja Financial Festival di Jogja Expo Center pada Sabtu (23/5/2026) dengan satu pesan tegas: persepsi publik yang menyebut BUMN tak pernah untung adalah keliru. "BUMN kita itu sangat powerful. Tidak benar kalau banyak yang mengatakan BUMN tidak pernah untung. Itu keliru," tegasnya.
Kontribusi gabungan dari dividen dan pajak BUMN kini setara dengan sekitar sepertiga APBN. Bukan angka kecil. Tahun 2026, Danantara menargetkan laba bersih korporasi negara tumbuh menjadi Rp360 triliun, naik dari realisasi 2025. Dony tidak berhenti di situ: ia memasang harapan pribadi agar BUMN mencetak laba sedikitnya Rp450 triliun sebelum ia pensiun pada 2029.
Tapi angka-angka besar itu datang bersama pengakuan yang cukup jujur soal luka lama. Selama bertahun-tahun, Kementerian BUMN hanya memegang fungsi "kuasa kelola" tanpa mekanisme nyata untuk menyelamatkan BUMN yang sedang sekarat. Hasilnya? PT INTI yang dulu disebut-sebut sebagai kebanggaan industri elektronik nasional kini menghadapi ancaman penutupan. Jakarta Lloyd dan Krakatau Steel menyusul dalam daftar yang muram.
"Karena tidak ada mekanisme untuk membantu satu BUMN dengan BUMN lain, menyebabkan sulit untuk melakukan perbaikan," ungkap Dony. Situasi ironis: laba jumbo BRI, BSI, dan BTN tidak bisa dialirkan untuk menolong saudara-saudaranya yang nyangkut.
Di sinilah Danantara masuk. Konsolidasi pengelolaan aset dan investasi BUMN dalam satu payung strategis ini dirancang untuk menutup celah koordinasi yang selama ini jadi biang kerok. Secara historis, restrukturisasi BUMN sudah dimulai sejak pembentukan holding tambang pada 2017 dan holding ultra mikro pada 2021. Skalanya memang berbeda. Danantara taruhan yang jauh lebih besar, dan beban pembuktiannya pun berlipat.
Apakah target Rp450 triliun realistis atau sekadar angka yang enak didengar di forum seperti Jogja Financial Festival? Kalau data ini bisa dipercaya, jawabannya baru terlihat di 2029, tepat saat Dony menanggalkan jabatannya.