US$70,3 miliar. Pasar tahu betul apa artinya angka sebesar itu.
Sepanjang Maret 2026, dana asing keluar dari pasar negara berkembang dengan kecepatan yang belum terlihat sejak Maret 2020, bulan pertama Covid-19 menghantam lantai bursa global. Data Institute of International Finance (IIF) yang dirilis pekan ini mengonfirmasi skala penarikan tersebut. Bukan koreksi teknikal biasa.
Pasar saham Asia menanggung beban paling berat. Aksi jual terjadi secara masif, agaknya dipicu kekhawatiran terhadap kebijakan tarif Amerika Serikat dan penguatan dolar yang menggerus daya tarik aset berisiko. Instrumen pendapatan tetap pun ikut tergerus.
Angka itu bukan remeh.
Kenapa 2020 jadi acuan? Karena era pandemi sudah jadi semacam patokan psikologis bagi pelaku pasar. Ketika volume arus keluar menyamai atau melampaui level waktu itu, sinyal yang dikirim cukup keras. Investor institusional global memilih menepi, setidaknya untuk sementara. Pertanyaannya, berapa lama posisi defensif ini bertahan.
Bagi investor lokal yang masih pegang porsi saham dengan eksposur asing tinggi, data IIF ini patut dijadikan bahan pikir serius. Bukan berarti harus serta-merta keluar. Tapi kalau asing saja kompak cabut, ada baiknya tanya: apa yang mereka hitung yang kita belum lihat?