SABTU, 26 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Dana Asing Cabut Rp 931 Miliar, IHSG Tak Kuat Taha...

Bisnis

Dana Asing Cabut Rp 931 Miliar, IHSG Tak Kuat Tahan Tekanan Jelang MSCI

Investor asing melepas saham senilai Rp 931,89 miliar dalam sehari, memperbesar akumulasi net sell sepanjang 2026 menjadi Rp 38,36 triliun. IHSG ditutup melemah di tengah bayang-bayang rebalancing MSCI dan krisis Hormuz.

Dana Asing Kabur Rp 931 Miliar Jelang Pengumuman MSCI

Sepanjang 2026, IHSG sudah amblas 20,68% secara year-to-date. Selasa (12/5) ini menambah luka.

Investor asing kembali dalam mode jual, melepas saham senilai Rp 931,89 miliar dalam satu sesi. IHSG sempat menguat hampir 1% ke level 6.977 di awal perdagangan, tapi angin berbalik cepat. Indeks ditutup melemah 0,68% ke 6.858,89. Semua kelihatan berjalan baik, sampai tidak.

Akumulasi net foreign sell sepanjang tahun kini mencapai Rp 38,36 triliun di pasar reguler. Bukan angka kecil. Cukup untuk menelan kapitalisasi pasar beberapa emiten papan menengah sekaligus.

Dua tekanan utama menekan pasar hari ini: bayang-bayang rebalancing MSCI yang pengumumannya dijadwalkan 12 Mei 2026 waktu AS, dan eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda reda.

Dalam siklus rebalancing kali ini, MSCI tidak akan menambah konstituen baru dari Indonesia ke indeksnya. Yang lebih mengkhawatirkan, dua saham RI berkategori High Shareholding Concentration (HSC) berpeluang dikeluarkan dari indeks MSCI, yakni PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Ancaman delisting dari indeks acuan global itu agaknya menjadi pemantik kepanikan tersendiri bagi investor institusional.

DSSA tercatat sebagai salah satu saham yang paling dibuang asing hari ini, dengan net foreign sell Rp 140,1 miliar. Posisi teratas ditempati PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) yang dilepas asing sebesar Rp 217,8 miliar, disusul PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) senilai Rp 181,7 miliar. Saham milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), juga tak luput, dengan net sell Rp 174,1 miliar.

Tapi ada variabel yang jauh lebih besar dan lebih sulit dikendalikan dari sekadar rebalancing indeks. Selat Hormuz. Jalur yang memperlancar sekitar 20% perdagangan minyak global itu lumpuh lebih dari 10 minggu sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Investor asing sudah gamang sejak penutupan itu, dan Trump memperkeruh suasana dengan menyatakan keraguannya terhadap masa depan gencatan senjata, sekaligus menolak proposal perdamaian terbaru dari Teheran.

"Kesepakatan damai yang komprehensif tampaknya sulit terwujud," tulis analis Bloomberg Economics, termasuk Dina Esfandiary dan Becca Wasser, dalam catatan terbarunya.

Sentimen semacam itu, bisa jadi, lebih menghantam ketimbang faktor MSCI yang sifatnya teknikal dan sudah bisa diantisipasi jauh-jauh hari. Ketidakpastian geopolitik tidak punya jadwal pengumuman. Itulah yang bikin pasar susah tenang.

Dengan tekanan ganda dari rebalancing indeks dan krisis Hormuz yang tak kunjung padam, pertanyaannya bukan lagi kapan asing berhenti jual. Pertanyaannya: ada berapa lagi ruang untuk turun sebelum pembeli domestik berani masuk?