RABU, 14 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Dana Asing Banjiri SBN, Tapi Jangan Terlena Dulu

Finansial

Dana Asing Banjiri SBN, Tapi Jangan Terlena Dulu

Kepemilikan asing di SBN kembali ke 13%, rata-rata transaksi harian tembus Rp20 triliun, dan CDS Indonesia menyusut ke 84. Sinyal pemulihan ada, tapi sejumlah ekonom mengingatkan ini belum berarti badai sudah berlalu.

Premi Risiko Investasi Menurun, Simak Strategi Bagi Investor Saat Ini

Angka-angka dari pasar obligasi Indonesia pekan ini terasa seperti napas lega setelah berminggu-minggu sesak. Rata-rata transaksi harian Surat Berharga Negara sudah pulih ke atas Rp20 triliun, naik drastis dari Rp14,8 triliun yang tercatat di pekan pertama Agustus 2026. Khusus Kamis lalu, inflow asing ke SBN mencapai Rp11 triliun hanya dalam sehari.

Credit default swap Indonesia tenor 5 tahun turun ke 84,22, dari posisi 95,45 pada akhir Juli. Premi risiko gagal bayar kita sedang menyusut. Bak gayung bersambut, rupiah menguat ke kisaran Rp17.693 per dolar AS, sementara yield SBN tenor 10 tahun sempat menyentuh 6,93% sebelum stabil di sekitar 7%.

Kepemilikan asing di SBN kembali ke sekitar 13%, dengan nilai total kepemilikan yang sudah menembus Rp909 triliun. Yang menarik, permintaan asing tidak lagi terkonsentrasi di ujung pendek kurva. Jessica Tasijawa, Fixed Income Analyst Mirae Asset Sekuritas, mencatat inflow mulai meluas ke tenor 1-2 tahun senilai Rp28 triliun, tenor 5-10 tahun sebesar Rp11 triliun, dan tenor di atas 10 tahun Rp4 triliun. Tren ini, tulisnya dalam riset Jumat (28/8/2026), mengindikasikan permintaan asing mulai bergeser melampaui front end dan memberikan demand buffer yang lebih kuat di sepanjang kurva.

Ada beberapa katalis di balik momentum ini. Stabilisasi rupiah di bawah Rp17.800 memberi ketenangan soal risiko kurs. Bank Indonesia juga memangkas frekuensi lelang SRBI menjadi sekali setiap dua minggu, sinyal bahwa regulator mulai membuka ruang agar dana asing lebih banyak mengalir ke SBN ketimbang tersedot instrumen bank sentral.

Dua faktor tambahan disebut Kepala Ekonom Bank Central Asia David Sumual: pengumuman target defisit APBN yang menurun pada 2027, dan pelemahan dolar AS pasca buyback US Treasury oleh pemerintah Amerika yang sempat memicu kekhawatiran pasar. Sentimen investor membaik, katanya, meski ia langsung menambahkan catatan penting bahwa belum ada garansi inflow akan berlanjut hingga akhir tahun.

Peringatan itu bukan basa-basi. Spread yield SBN 10 tahun terhadap US Treasury melebar ke 244,5 bps, angka yang secara teori menarik untuk akumulasi selektif. Tapi yield US Treasury 10 tahun sendiri sudah naik 3 bps ke 4,671%, sementara data PCE Juli Amerika menunjukkan inflasi tahunan masih di 3,7%. Kontrak berjangka mengindikasikan probabilitas kenaikan Fed Rate 25 bps pada September mencapai 36,5%, dengan kemungkinan setidaknya satu kenaikan hingga Desember sebesar 72,7%.

Belum lagi minyak. Harga Brent melonjak 2,1% ke US$89,7 per barel akibat eskalasi ketegangan AS-Iran. Kalau berlanjut, ini bisa menambah tekanan inflasi global dan mempersulit dovish pivot bank sentral manapun.

Ekonom CORE Yusuf Rendy Manilet melihat perbaikan CDS saat ini lebih mencerminkan perbaikan persepsi risiko jangka pendek. "Belum menunjukkan bahwa tekanan eksternal dan kebutuhan pembiayaan domestik sudah sepenuhnya mereda," tegasnya. Rupiah yang masih berputar di kisaran Rp17.700, secara historis, masih terbilang lemah.

Strategi Yusuf cukup pragmatis: tambah eksposur bertahap, bukan masuk agresif. SBN tenor menengah masih menarik selama yield bertahan di atas 7%, tapi durasi portofolio sebaiknya tetap dijaga. Tiga indikator yang perlu dicermati: rupiah konsisten di bawah Rp17.700, CDS tetap di bawah 90, dan inflow asing ke SBN mengalir stabil. "Jika ketiganya mulai konsisten, kita bisa melihat perbaikan risiko investasi yang lebih fundamental, bukan sekadar perbaikan sentimen pasar," kata Yusuf.

Buat investor ritel yang tertarik instrumen lebih simpel, SR025 masih dalam masa penawaran hingga 16 September 2026. Kupon tetap 6,8% untuk tenor tiga tahun dan 6,9% untuk tenor lima tahun, setara kupon neto Rp510.000 dan Rp517.500 per bulan untuk setiap Rp100 juta investasi. Bukan yield terbesar di luar sana, tapi dijamin negara dan bebas dari fluktuasi harga selama dipegang hingga jatuh tempo.

Pertanyaannya tinggal satu: apakah The Fed, dalam pidato di Jackson Hole, akan berbaik hati pada pasar berkembang? Jawabannya, agaknya, tidak akan sederhana.