Awal Juli 2026, pasar pangan nasional tidak bergerak satu arah. Cabai merah dan bawang merah memang melandai, tapi daging sapi dan beras tidak ikut turun, justru kompak merangkak naik, meski tipis.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia per 5-6 Juli 2026, cabai rawit merah mencatat penurunan paling dalam: turun 7,93% ke Rp62.100 per kg. Cabai merah besar terkoreksi 5,51% menjadi Rp50.500 per kg, cabai merah keriting turun 4,14% ke Rp50.900 per kg, dan cabai rawit hijau melemah 3,96% ke Rp49.750 per kg. Bawang merah ukuran sedang pun ikut tergerus, antara 3-6%, ke level Rp47.800 per kg.
Koreksi di kelompok hortikultura ini bisa jadi sinyal pasokan mulai membaik, atau sekadar normalisasi musiman. Agaknya faktor kedua yang lebih dominan.
Daging sapi justru kian mahal. Kualitas 1 naik tipis 0,13-0,17% ke Rp150.250 per kg, kualitas 2 meningkat 0,32-0,39% menjadi Rp141.500 per kg. Bukan lonjakan dramatis memang, tapi konsisten naik dua hari berturut-turut. Cukup untuk bikin ibu rumah tangga mengernyitkan dahi di depan meja jagal.
Beras bergerak lebih bervariasi. Beras kualitas super I naik 0,28% ke Rp17.650 per kg, beras medium II meningkat 0,31% ke Rp16.150 per kg, sedangkan beras kualitas bawah I bertahan di Rp14.700 per kg. Yang bikin gelisah adalah disparitas antarwilayah yang masih menganga: untuk kelas bawah I saja, Nusa Tenggara Barat mencatat Rp13.800 per kg, jauh lebih murah ketimbang Sumatera Utara dan Jawa Barat yang menembus Rp15.150 per kg, dengan Jawa Timur di kisaran Rp15.000 per kg. Selisih Rp1.350 per kg antara provinsi termurah dan termahal bukan angka yang bisa diabaikan, terutama bagi konsumen kelas bawah.
Bawang putih ukuran sedang juga naik tipis, 0,23-0,92%, ke Rp44.100 per kg, menjadikannya satu-satunya komoditas bumbu yang bergerak berlawanan dengan tren penurunan hortikultura.
Daging ayam ras segar dan telur ayam ikut melemah. Ayam ras turun 0,95-1,21% ke Rp36.600 per kg, telur tergerus 0,68-1,35% ke Rp29.250 per kg. Minyak goreng dan gula relatif stagnan: minyak goreng curah bertahan di Rp20.600 per liter, gula pasir lokal di Rp19.050 per kg.
Pola bulan ini terbilang tidak lazim. Tekanan inflasi pangan datang dari protein merah, bukan dari cabai atau bawang seperti yang biasa terjadi di awal tahun. Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan? Bagi konsumen, kombinasi beras naik plus daging sapi naik di musim belanja sekolah adalah pukulan dari dua arah sekaligus, dan itu menyakitkan.