Inflasi tahunan Provinsi Nusa Tenggara Barat melesat ke 4,03 persen pada Agustus 2026, naik tajam dari 3,01 persen sebulan sebelumnya. Angka ini sudah melampaui rentang maksimal 3,5 persen yang ditetapkan pemerintah sebagai batas kendali.
Badan Pusat Statistik NTB mencatat Indeks Harga Konsumen provinsi itu menyentuh 112,85, dengan inflasi bulanan 0,57 persen. Hampir tiga kali lipat inflasi nasional yang hanya 0,21 persen di periode yang sama. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.
Daging ayam ras menjadi tersangka utama. Komoditas ini menyumbang andil 0,21 persen terhadap inflasi bulanan, sendirian menanggung lebih dari sepertiga total tekanan harga. Kepala BPS NTB Wahyudin menyebut dua katalis yang bertabrakan di saat bersamaan: kembali beroperasinya dapur program Makan Bergizi Gratis setelah libur sekolah usai, dan momentum Maulid Nabi Muhammad SAW yang mendongkrak permintaan dari sisi rumah tangga.
"Kenaikan harga daging ayam dipicu oleh meningkatnya permintaan dari SPPG seiring dengan mulai aktifnya kegiatan sekolah, yang kemudian disusul momen Maulid sehingga semakin meningkatkan permintaan," jelas Wahyudin. Masalahnya, produksi lokal NTB belum mampu menutupi kebutuhan itu, sehingga pasokan masih harus ditarik dari luar daerah, termasuk dari Surabaya.
Di sisi distribusi, kondisinya makin keruh. Jatah pasokan daging ayam yang biasanya 150 kilogram per pedagang dipangkas jadi 70 kilogram oleh distributor, tepat di momen permintaan paling tinggi. Habis dalam hitungan jam. Kondisi serupa juga menimpa daging sapi, yang harganya dihajar dua tekanan sekaligus: stok sapi potong terbatas dan permintaan meledak untuk tradisi roah Maulid.
Daging sapi kualitas super di Pasar Kebon Roek, yang normalnya berkisar Rp120.000 per kilogram, kini tembus Rp160.000 hingga Rp170.000. "Ini yang kualitas bagus, harganya Rp 160 ribu per kilo. Kalau normal biasanya Rp 120 ribu per kilo. Sudah dua minggu ini naik harganya. Katanya sapi lagi langka, makanya naik," ujar Rusdi, pedagang di Pasar Kebon Roek. Banyak pembeli akhirnya beralih ke daging kelas tiga seharga Rp90.000 sampai Rp100.000 per kilogram sekadar supaya dapur tetap ngebul.
Selain daging, cabai rawit menyumbang andil 0,07 persen, terdampak cuaca panas ekstrem yang membuat panen kurang optimal. Ikan layang dan tongkol kena juga, masing-masing 0,07 persen dan 0,06 persen, akibat gelombang dan angin kencang yang menghadang nelayan. Kelompok informasi dan komunikasi turut mengerek harga, dipicu krisis pasokan komponen global terutama memori seperti RAM dan storage yang mendorong harga ponsel dan laptop ikut merangkak.
Secara wilayah, Kota Mataram mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,69 persen dengan IHK 113,03. Kabupaten Sumbawa mengikuti di angka 0,53 persen. Untuk inflasi tahunan, Kota Bima justru yang teratas di level 4,49 persen.
Ada sedikit penahan laju. Tomat deflasi 0,06 persen seiring stok mencukupi, bawang merah turun 0,03 persen berkat panen yang mulai memasuki pasar, bensin melemah tipis 0,01 persen. TPID Kota Mataram pun turun ke lapangan, memantau Pasar Kebon Roek dan Mandalika sambil mengoperasikan aplikasi SiPasti Mapan yang dilengkapi sistem early warning tiga warna untuk mendeteksi tekanan harga secara real time.
Wahyudin menegaskan angka 4,03 persen ini menjadi alarm bagi seluruh TPID kabupaten dan kota untuk memperketat pengendalian. Ini angka tertinggi kedua sepanjang tahun, setelah inflasi tahunan Februari 2026 yang pernah menyentuh 5,37 persen. Siklus hari besar keagamaan masih panjang, dan program MBG tidak akan berhenti. Pertanyaannya: apakah tekanan ini akan membawa NTB kembali mendekat ke puncak sebelumnya?