Empat tahun. Segitu waktu yang dibutuhkan That's No Moon sebelum akhirnya buka kartu di Summer Game Fest 2026, dan nama yang mereka bawa keluar cukup untuk membuat sebagian orang mengerutkan dahi: Crossfire.
Bukan nama yang asing, tapi justru di situ letak taruhannya. Crossfire sebagai waralaba selama ini lebih dikenal sebagai game free-to-play multiplayer yang kerap kalah pamor dibanding Call of Duty atau Battlefield. Luka paling anyar datang dari CrossfireX, yang disambut dingin pasar. Smilegate, selaku pemilik IP, agaknya sadar betul bahwa waralaba ini butuh sesuatu yang berbeda secara fundamental, dan mereka menyerahkan kendali kepada studio yang sejak awal memang dibentuk untuk misi semacam ini.
That's No Moon bukan nama sembarangan. Studio berbasis Los Angeles yang berdiri sejak 2021 ini diisi deretan veteran: Jacob Minkoff dari Naughty Dog dan Infinity Ward, Michael Mumbauer mantan kepala PlayStation Visual Arts Studio, serta Nick Kononelos yang merentang karier dua dekade di PlayStation dan Electronic Arts. Pernyataan misi mereka dari awal sudah jelas, menghadirkan "generasi baru pengalaman interaktif yang digerakkan oleh narasi."
Crossfire versi baru ini hadir sebagai game action-adventure taktis sudut pandang ketiga. Tanpa multiplayer. Tanpa live service. Tanpa elemen kooperatif apa pun. Pemain tunggal murni, dan pilihan itu, jujur saja, cukup berani di lanskap industri yang terus mendorong studio ke arah monetisasi berkelanjutan.
Ceritanya memusat pada dua karakter dengan latar yang terpolarisasi: Layla Qassem, seorang mercenary ambisius yang akan menghalalkan segala cara demi maju, diperankan oleh Claudia Doumit yang dikenal lewat The Boys. Di sisinya ada Delroy Cross, diperankan Ricky Whittle dari American Gods, sosok yang lebih pendiam dan memprioritaskan stabilitas institusional. Dua operator dari kubu berlawanan yang terpaksa membentuk aliansi untuk menghadapi ancaman yang digambarkan punya skala eksistensial, dengan bumbu fiksi ilmiah yang detailnya masih rapat dijaga studio.
Mekanik andalannya disebut Adaptive Cover. Sistem ini membuat Layla menyesuaikan postur tubuhnya secara dinamis sesuai topografi medan dan posisi musuh, dari tengkurap penuh, semi-tengkurap, berjongkok, hingga setengah berdiri, semuanya mengalir saat berpindah di antara permukaan yang tidak rata dan tidak sempurna. That's No Moon menekankan bahwa inspirasi sistem ini berasal dari teknik militer nyata yang disebut defilade. Di atas kertas, ini terdengar seperti evolusi yang organik dari mekanik cover-shooter yang sudah ada. Apakah terasa demikian saat dimainkan penuh, tentu masih perlu dibuktikan.
Sisi teknis tidak main-main. Dibangun di atas Unreal Engine 5 dengan teknologi Nanite untuk detail geometri lingkungan dan Lumen untuk pencahayaan dinamis, presentasinya menjanjikan visual premium tanpa kompromi. HUD minim yang membiarkan aksi berbicara sendiri, dengan pendekatan sinematik yang mereka sebut "prestige storytelling."
Taylor Kurosaki, chief creative officer That's No Moon, menyatakan bahwa studio ini didirikan dengan satu tujuan: menghadirkan pengalaman single-player kelas dunia. "Dengan Crossfire, kami berharap dapat menunjukkan kepada dunia bahwa tim kami memiliki kombinasi silsilah dan visi yang langka untuk melakukan hal itu," tegasnya.
Gameplay yang ditampilkan sejauh ini memang masih sekelumit. Sebatas Layla merayap di medan berbatu, menetralisir musuh secara senyap, merespons situasi yang berubah dengan transisi dari siluman ke aksi terbuka. Kesannya familiar dalam kerangka besar, tapi ada bakat yang berbeda dalam detail eksekusinya. Sedikit seperti menggabungkan filosofi pergerakan Death Stranding dengan DNA taktis Metal Gear. Kalau data awal ini bisa dipercaya, kombinasi itu bisa jadi sesuatu.
Tanggal rilis belum diumumkan. Platform yang dikonfirmasi: PC, PS5, dan Xbox Series X/S.
Ekspektasi sudah telanjur tinggi. Dan dalam industri ini, ekspektasi tinggi bisa jadi berkah sekaligus beban yang menghancurkan.