SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  CPO Bertahan di Atas MYR 4.500, B50 Angkat Prospek...

Finansial

CPO Bertahan di Atas MYR 4.500, B50 Angkat Prospek Emiten Sawit

Kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia Derivatives rebound pada Senin (13/7), ditopang pelemahan ringgit dan rencana Indonesia menaikkan mandatori biodiesel ke B50 yang berpotensi mendongkrak konsumsi domestik hingga 17 juta ton tahun ini.

Harga CPO Loncat, Ditopang Ekspor dan B50 RI - Halaman all

Kontrak berjangka minyak kelapa sawit mentah di Bursa Malaysia Derivatives kembali menguat pada Senin (13/7/2026), membalik tekanan yang menghajar harga dalam beberapa sesi sebelumnya. Kontrak September 2026 naik 20 ringgit ke level 4.533 ringgit per ton. Kontrak Desember 2026 sudah tembus 4.633 ringgit. Bukan sekadar rebound teknis.

Tiga faktor sekaligus mendorong kenaikan ini: ringgit melemah sehingga CPO lebih murah bagi pembeli asing, harga minyak nabati pesaing di bursa Dalian dan Chicago ikut menguat mempersempit gap harga yang sempat mengalihkan pembeli, dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mendongkrak harga minyak mentah global. Secara historis, minyak mentah yang mahal selalu berkorelasi dengan selera pasar terhadap minyak nabati sebagai substitusi energi.

Sinyal ekspor awal Juli pun tidak mengecewakan. Surveyor kargo mencatat volume pengiriman CPO pada 1-10 Juli naik 1,6% hingga 5,1% dibanding periode yang sama di bulan Juni. Angka yang agaknya terlihat kecil, tapi cukup untuk membuktikan permintaan tidak sepenuhnya amblas.

Bagi Indonesia, katalis terbesar justru bersumber dari dalam negeri. Rencana pemerintah menaikkan mandatori biodiesel dari B40 ke B50 menjadi sentimen yang paling ditunggu pelaku pasar perkebunan. Jika kebijakan ini berjalan sesuai jadwal, konsumsi minyak sawit domestik diproyeksikan melonjak ke kisaran 16,3 juta hingga 17,0 juta ton tahun ini, naik dari 15,2 juta ton pada 2025. Tambahan serapan sekitar satu juta ton lebih. Bagi emiten yang selama ini bergantung pada fluktuasi ekspor, angka itu bukan hal sepele.

Namun reli ini tidak meluncur mulus. Malaysian Palm Oil Board melaporkan stok sawit Malaysia per akhir Juni naik 4,8% secara bulanan ke level tertinggi dalam empat bulan terakhir, dipicu lonjakan produksi musiman sebesar 8,1%. Pasokan yang menumpuk saat panen raya praktis jadi penekan alami bagi harga.

Tekanan lain datang dari India. Impor CPO negara itu pada Juni jatuh ke level terendah dalam 14 bulan, dihajar melemahnya permintaan lokal sekaligus menyempitnya selisih harga CPO terhadap minyak kedelai dan bunga matahari. Ketika disparitas harga tidak lagi menguntungkan, buyer India cenderung memutar haluan. Bak gayung bersambut bagi pesaing CPO.

Pelaku pasar pun belum sepenuhnya melepas rem. Dua rilis data dari China, yakni angka perdagangan Juni dan PDB kuartal II-2026, diyakini bakal menentukan seberapa dalam selera beli Beijing terhadap komoditas ini. Pertanyaannya: berapa lama CPO bisa bertahan di atas 4.500 ringgit sebelum data itu keluar?

Bagi investor saham sektor perkebunan di Bursa Efek Indonesia, kombinasi pemulihan harga global dan prospek B50 setidaknya menawarkan narasi yang lebih solid dibanding kuartal sebelumnya, kalau data China ini bisa dipercaya. Yang belum terjawab: apakah tekanan pasokan Malaysia dan seret-nya permintaan India cukup untuk memangkas optimisme itu sebelum angka kuartal ketiga keluar.