Lebih dari setahun Coretax DJP berjalan, dan gambaran yang muncul jauh dari hitam-putih. Sistem ini mulai diterima, tapi belum sepenuhnya dipercaya, dua hal yang terdengar mirip tapi maknanya beda jauh.
Survei Biro Riset Infobank terhadap 854 responden pada 3-13 April 2026 memberikan potret yang jujur sekaligus menarik. Sebanyak 61,12 persen responden menilai sistem mudah diakses, 58,01 persen merasa kecepatan akses memadai, dan 60,44 persen menyatakan bersedia terus menggunakan Coretax. Cukup untuk disebut positif, belum cukup untuk disebut memuaskan.
42,73 persen responden mengaku mengalami hambatan nyata. Gangguan jaringan menjadi keluhan terbesar (43,65 persen), disusul kekhawatiran keamanan data (40,10 persen) dan kesulitan unggah dokumen (35,03 persen). Hampir separuh pengguna bermasalah. Bukan angka yang bisa dikesampingkan.
Anggito Abimanyu, dosen Universitas Gadjah Mada yang menulis opini "Pertaruhan Coretax" di Kompas (25 Mei 2026), mengingatkan bahwa angka-angka agregat yang menjanjikan tidak boleh meninabobokan pembuat kebijakan. Modernisasi perpajakan tidak akan berhasil hanya dengan software yang canggih, tulisnya. Ia membutuhkan empati kebijakan, komunikasi publik yang baik, dan kemampuan negara memahami pengalaman nyata para penggunanya.
Data survei juga membongkar problem struktural yang lebih dalam. Sebanyak 62,91 persen responden yang belum menggunakan Coretax mengaku tidak paham cara mengaksesnya. Lebih jauh, 52,98 persen tidak tahu kewajiban penggunaan sistem ini karena minim sosialisasi. Hambatan terbesar, rupanya, bukan server yang lemot, melainkan kesenjangan literasi dan komunikasi kebijakan yang belum menjangkau bawah.
DJP agaknya sudah membaca sinyal itu. Program Tax Goes To Campus yang digelar KPP Pratama Sidoarjo Utara di Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo pada 7 Mei 2026 adalah salah satu pendekatan yang lebih membumi. Penyuluh pajak Devi Damasantika mengajari mahasiswa soal aktivasi akun, permintaan kode otorisasi, hingga fitur-fitur SPT tahunan di Coretax. "Perkembangan sistem perpajakan terus berjalan, mahasiswa perlu turut memahami perubahan ini," katanya. Rekan sejawatnya, Antonius Atet Wiyono, menekankan pentingnya membangun kesadaran pajak sejak dini lewat kolaborasi DJP dengan kampus.
Dari sisi teknis, Coretax juga memperkenalkan konsep impersonating yang cukup fundamental bagi wajib pajak badan, konsep yang menggantikan praktik lama berbagi password akun korporat, celah keamanan yang selama ini dibiarkan menganga. Kini, akun badan dikelola melalui akun pribadi yang ditunjuk sebagai penanggung jawab utama (person in charge/PIC), dengan sistem role access yang bisa didelegasikan ke pegawai atau konsultan pajak sesuai kebutuhan.
DJP membagi pihak terkait dalam dua kategori. Pertama, orang terkait: mencakup direktur, komisaris, pemegang saham, karyawan, hingga bendaharawan instansi pemerintah. Mereka bisa ditunjuk sebagai wakil atau kuasa dan diberi akses spesifik, misalnya sebagai pembuat faktur pajak. Kedua, wajib pajak terkait: mencakup perusahaan dalam satu grup, penanggung pajak, atau beneficial owner. Kategori ini tidak bisa ditunjuk sebagai wakil atau kuasa, hanya tercatat sebagai pihak yang berelasi.
Desain yang lebih rapi dari sistem sebelumnya, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya. Tapi seperti semua transformasi besar, kerapian di atas kertas tidak otomatis berarti kelancaran di lapangan. Survei Infobank mencatat bahwa respondennya didominasi kelompok berpendidikan tinggi dan pegawai swasta, setidaknya 82,55 persen berlatar akademi atau universitas, sehingga ada kemungkinan bias optimisme digital dalam hasilnya. Persepsi pelaku UMKM mikro, wajib pajak di daerah terpencil, atau kelompok usia lanjut kemungkinan belum terwakili secara proporsional.
Pertanyaannya, apakah Coretax benar-benar meningkatkan kepatuhan dan penerimaan pajak, atau sekadar memindahkan proses dari kertas ke layar? Angka kepuasan pengguna itu penting, tapi bukan tujuan akhir. Yang diuji bukan seberapa canggih sistemnya. Yang diuji adalah seberapa besar kepercayaan warga negara terhadap negara yang minta uang mereka.