Fitur PC Insights yang sedang diuji Microsoft untuk Copilot di Windows 11 menjanjikan sesuatu yang selama ini hanya ada di bayangan pengguna awam: asisten AI yang benar-benar paham kondisi perangkat yang sedang dipakai, bukan sekadar menjawab dari data generik internet.
Secara teknis, PC Insights bekerja dengan mengakses Windows API langsung setelah pengguna memberi izin. Dari sana, Copilot bisa membaca spesifikasi hardware, status Wi-Fi, health baterai, kapasitas penyimpanan, hingga penggunaan CPU, RAM, dan GPU secara real-time. Perangkat USB yang terhubung pun ikut terdeteksi. Ini yang membedakannya dari ChatGPT atau AI lain yang hanya bisa berandai-andai soal kondisi perangkat pengguna.
Contoh penggunaannya cukup konkret. Mau install game 100 GB tapi tidak yakin storage cukup? Copilot akan menghitung sisa kapasitas drive, mencocokkannya dengan kebutuhan sistem game yang dicari di internet, lalu jika ternyata kurang, ia merekomendasikan folder atau file besar mana yang aman dibersihkan. Tidak perlu buka Task Manager. Tidak perlu berselancar ke File Explorer.
Bagi pengguna yang belum akrab dengan pernak-pernik teknis semacam itu, ini bisa jadi game changer. Bayangkan bisa bertanya langsung, "apakah spesifikasi saya cukup untuk menjalankan game ini?" dan mendapat jawaban berbasis kondisi nyata perangkat, bukan asumsi belaka.
Soal privasi, Microsoft menegaskan PC Insights tidak memindai isi komputer secara diam-diam. Setiap akses ke informasi sistem butuh izin eksplisit dari pengguna, dan pengguna bisa memilih apakah izin berlaku sekali atau permanen. File pribadi maupun data sistem, kata Microsoft, tidak dipakai untuk melatih model AI mereka.
Tapi ada ironi yang sulit diabaikan. Copilot yang hadir untuk membantu mengoptimalkan performa Windows justru termasuk aplikasi paling rakus memori. Dalam kondisi idle, pemakaian RAM-nya dilaporkan menyentuh lebih dari 400 MB. Versi web app bahkan kedapatan menyedot hingga kisaran 1 GB saat berjalan di latar belakang. Kontradiksi yang, agaknya, belum ada jawaban memuaskan dari pihak Microsoft.
PC Insights saat ini masih dalam tahap rollout terbatas dan baru tersedia bagi sebagian pengguna di Amerika Serikat. Kapan meluas ke pasar lain, termasuk Indonesia, belum ada kepastian.
Konteks lebih luas perlu dipahami. Copilot bukan lagi chatbot yang ditempelkan di sudut Windows. Microsoft sedang membangun ekosistem AI yang jauh lebih ambisius, mencakup integrasi dengan Word, Excel, PowerPoint, Outlook, hingga Teams melalui Microsoft 365. Di sisi konsumen, Copilot juga sudah bisa tersambung ke Gmail, Google Drive, dan Google Kalender. Copilot Vision bahkan bisa "melihat" layar komputer atau kamera ponsel untuk memberi panduan kontekstual.
Soal model AI di balik mesinnya: Microsoft merutekan permintaan melalui GPT-5 untuk mode Smart di versi konsumen. Sementara di segmen komersial, Microsoft 365 Copilot mulai bergeser ke GPT-5.6, dengan rencana aktivasi default untuk pelanggan yang memenuhi syarat pada 24 Juli 2026, kecuali administrator menonaktifkannya. Versi bisnis juga bisa menawarkan model dari Anthropic melalui pemilih model yang didukung.
PC Insights, kalau akhirnya meluncur luas, berpotensi jadi salah satu fitur Copilot yang paling berguna secara praktis, terutama untuk pengguna non-teknis. Pertanyaannya tinggal satu: kapan Microsoft beres mengurus konsumsi memori dari aplikasinya sendiri?