Subsidi LPG selama ini jadi salah satu beban fiskal yang paling susah dipangkas. Tahun ini angkanya tembus Rp86-90 triliun, sementara sekitar 80% kebutuhan LPG nasional masih dipasok dari impor karena produksi domestik hanya 1,8-1,9 juta ton per tahun, jauh di bawah konsumsi yang mencapai 8,5 juta ton.
Karena itulah pemerintah kini menaruh taruhan cukup besar pada satu solusi: compressed natural gas, atau CNG, dalam ukuran tabung 3 kilogram.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut harga CNG nantinya akan lebih murah 30-40 persen ketimbang LPG yang beredar saat ini. Dengan selisih harga segitu, negara berpotensi menghemat subsidi di kisaran Rp27-30 triliun per tahun. "Yang jelas harganya lebih murah 30-40 persen daripada elpiji. Kalau 30-40 persen sekarang subsidi kita berapa? Rp86 triliun sampai 90. Kali rata-ratalah kalau katakanlah 25 persen, kali 30 persen, berarti kan Rp27 triliun sampai Rp30 triliun bisa kita lakukan efisiensi," ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (6/7/2026). Efisiensi ini, tegasnya, bisa dialihkan untuk kebutuhan pembangunan lain.
Agak berbeda versinya di level teknis. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman menyampaikan bahwa dalam simulasi awal, harga jual CNG 3 kg justru akan disamakan dengan LPG 3 kg, bukan lebih murah. Tapi bahkan dengan harga yang setara sekalipun, subsidi diklaim bisa terpangkas hingga 30% karena struktur biaya produksi CNG dari gas domestik lebih efisien ketimbang LPG impor. "Sama. Sama dengan harganya sama. Sekarang simulasinya masih disamakan. Dengan disamakan pun subsidi bisa turun sampai dengan 30%," kata Laode saat ditemui di Gedung DPR, Senin (29/6/2026). Dua angka dari dua pejabat, angka yang agaknya perlu dikonfirmasi lebih lanjut sebelum implementasi dimulai.
Saat ini Kementerian ESDM tengah menyiapkan 15 prototipe tabung CNG yang diberi nama "Tabung Merah Putih". Tabung berteknologi tipe 4 berbahan serat material ini diimpor dari China, karena industri dalam negeri belum mampu memproduksinya. Uji coba di laboratorium Lemigas dijadwalkan selesai Juli ini, dengan fokus pada pengujian tekanan operasi 200-250 bar serta keamanan valve dan tabung. Kalau uji coba tahap ketiga ini berjalan mulus, Bahlil menargetkan pengumuman implementasi bisa dilakukan sebelum Agustus 2026.
Soal tabung impor dari China, Laode mengakui ini bukan keputusan yang ideal, tapi realistis untuk tahap awal. "Kan ini teknologinya tinggi. Saat ini yang mampu membuat teknologi itu di luar ya, kita belum," katanya. Pemerintah berencana mengimpor sekitar 100.000 unit untuk program perdana. Harapannya, industri domestik lambat laun bisa mengadopsi teknologi manufaktur tabung tipe 4 ini.
Dari sisi distribusi, rollout tidak akan merata sekaligus. Pemerintah memprioritaskan kota-kota besar di Pulau Jawa yang sudah memiliki jaringan pipa gas, karena distribusi via pipa menekan harga jual di titik konsumen secara nyata. Paradoksnya justru di sini: daerah-daerah terpencil yang selama ini paling bergantung pada subsidi LPG akan paling lama menunggu giliran.
CNG bukan barang baru di sektor energi. Gas ini sudah dipakai di segmen horeka, hotel, restoran, dan kafe, termasuk untuk program Makan Bergizi Gratis, tapi dalam tabung berkapasitas besar di atas 10-20 kg. Tantangan nyatanya ada di miniaturisasi: mengemas gas bertekanan sangat tinggi dalam tabung 3 kg yang aman, terjangkau, dan bisa diproduksi massal. Itulah inti dari uji coba yang sedang berjalan sekarang. Tidak mudah.
Bagi pelaku pasar dan investor di sektor energi, ini sinyal yang layak dicermati. Kalau program CNG berhasil berjalan dalam dua-tiga tahun ke depan, peta subsidi energi nasional bisa bergeser cukup jauh, dan emiten gas seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) berpotensi jadi salah satu yang paling diuntungkan dari perluasan jaringan distribusi gas domestik. Bisa jadi. Kalau uji coba bulan ini benar-benar lolos.