KAMIS, 1 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  CNG 3 Kg Gantikan LPG: Hemat 40% Subsidi, Tapi Ada...

Bisnis

CNG 3 Kg Gantikan LPG: Hemat 40% Subsidi, Tapi Ada Tapinya

Pemerintah siap impor 100 ribu tabung CNG dalam tiga bulan ke depan sebagai langkah awal substitusi LPG 3 kg. Potensi penghematan subsidi hingga 40%, tapi soal keamanan belum tuntas dijawab.

Untung-Buntung Wacana Pakai CNG 3 Kg demi Kurangi Konsumsi LPG RI - Energi

Pemerintah serius melanjutkan rencana substitusi LPG 3 kg ke compressed natural gas (CNG), dan kali ini sudah ada angka konkretnya: 100 ribu tabung akan dipesan dari luar negeri dalam tiga bulan ke depan sebagai first order, sebelum pengujian lapangan dimulai satu hingga dua bulan setelahnya.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menegaskan skala pemesanan tidak bisa dilakukan secara eceran. "Kalau ada yang nanya kok belum dibikin? Ya memang harus di-order 100 ribu atau di atasnya baru," jelasnya dalam podcast resmi Kementerian ESDM. Jika program berjalan masif, pemerintah berencana mendorong produsen tabung itu membuka pabrik di dalam negeri, mengikuti pola lokalisasi industri yang sudah sering dipakai di sektor energi.

Sisi fiskalnya cukup menggoda. Laode menyebut penggunaan CNG berbasis gas bumi domestik berpotensi memangkas beban subsidi LPG hingga 30-40%. Logikanya sederhana: LPG selama ini mayoritas diimpor dengan harga pasar global yang tidak murah, sementara Indonesia punya cadangan gas yang melimpah. Harga gas alam dalam tabung kecil pengganti LPG 3 kg diperkirakan sekitar US$15 per MMBtu, dibanding LPG yang mencapai US$22 per MMBtu. Selisih hampir 30%.

"Tinggal 40-30% tadi kan mau dibagi kemana saja, mau dipotong subsidinya atau dikurangi harganya," kata Laode. Formulanya belum baku, tapi target harga di tingkat konsumen sudah tegas: tidak boleh beda dari LPG 3 kg saat ini. "Kalau berbeda ibu-ibunya merasa keberatan nanti," ujarnya.

Infrastruktur distribusi LPG yang sudah ada, dari agen hingga pangkalan, diklaim tetap bisa dipakai dengan penyesuaian fungsi. Agaknya pola bisnis yang sedang dikaji mengacu pada ekosistem yang sudah berjalan. Cukup ganti isi tabungnya saja.

Nah, di sini pertanyaan yang belum tuntas dijawab muncul: soal keamanan. Tabung CNG tipe C-4 yang akan diuji ini, menurut Laode, belum punya padanan di dunia untuk skala setara LPG 3 kg, meski format yang lebih besar sudah lazim dipakai di industri. Tekanan di dalamnya bisa mencapai 250 bar, jauh lebih tinggi dari tabung LPG konvensional.

Praktisi senior migas Hadi Ismoyo tidak mempermasalahkan aspek ekonominya. Tapi dia mengingatkan bahwa prosedur keamanan harus disiapkan matang sebelum CNG bertekanan tinggi itu beredar di tangan masyarakat umum. "Tantangan yang perlu diperhatikan adalah karena mini CNG tube ini bertekanan sekitar 250 bar, maka prosedur keamanannya harus disiapkan dengan baik," kata Hadi. Klaim Kementerian ESDM bahwa tabung CNG bakal lebih aman dari LPG 3 kg, kata Laode sendiri, bisa terwujud asalkan spesifikasi tabung dan katupnya benar-benar memenuhi standar.

Klaim yang masih perlu dibuktikan di lapangan. Program ini belum masuk fase uji coba, apalagi komersialisasi.