Selama 80 tahun, desain chip mengikuti satu logika yang sama: prosesor di satu sisi, memori di sisi lain, data berpindah bolak-balik di antaranya. Anker Innovations kini mengklaim telah memutus siklus itu dengan chip buatannya sendiri.
Dalam gelaran Anker Day 2026 bertajuk "Where Ultimate Meets Possible" di STORIED, New York City, perusahaan asal China yang selama ini identik dengan power bank dan charger itu resmi memperkenalkan THUS, chip audio AI compute-in-memory berbasis jaringan saraf yang diklaim sebagai yang pertama di dunia untuk perangkat audio konsumen. Peluncuran ini sekaligus menandai babak baru bagi Anker yang kini tidak sekadar merakit perangkat, melainkan sudah mulai membangun fondasi semikonduktor AI-nya sendiri.
Ide di balik THUS sebetulnya sederhana, tapi implikasinya besar. Chip konvensional menghabiskan lebih dari 90 persen daya hanya untuk memindahkan data antara memori dan prosesor, nyaris tidak menyisakan energi untuk komputasi yang sesungguhnya. THUS membalik logika itu dengan menanamkan proses komputasi langsung di dalam sel memori NOR Flash tempat model AI sudah berada, sehingga parameter tidak perlu berpindah ke mana-mana. "Hingga saat ini, setiap chip AI yang diciptakan selalu menyimpan model di satu sisi dan melakukan komputasi di sisi lainnya. Untuk dapat berpikir, perangkat harus memindahkan seluruh parameter tersebut bolak-balik, berkali-kali per detik," ujar Pendiri sekaligus CEO Anker Innovations Steven Yang. Dengan THUS, katanya, komputasi ditempatkan langsung di tempat model itu berada.
Nama THUS bukan sekadar akronim marketing. Yang menyebut nama itu terinspirasi dari frasa "Thus have I heard" dalam tradisi Buddhis, yang menggambarkan transmisi pengetahuan secara langsung tanpa distorsi. Filosofis, memang, tapi relevan dengan proposisi teknis yang ditawarkan: inferensi AI on-device tanpa lalu lintas data yang berantakan.
Debut perdana chip ini disematkan pada soundcore Liberty 5 Pro dan Liberty 5 Pro Max. Anker mengklaim daya komputasi AI pada kedua earbuds ini mencapai 150 kali lebih kuat dibanding lini flagship Anker generasi sebelumnya, khususnya untuk fitur environmental noise cancellation. Angka yang tidak main-main, dan memang masih perlu dibuktikan di kondisi lapangan. Fitur andalan keduanya adalah Whisper Clear Calls, yang mengandalkan jaringan saraf berskala besar dengan susunan 10 sensor, terdiri dari delapan mikrofon MEMS dan dua sensor bone conduction, untuk menangkap suara pengguna secara akurat di lingkungan bising sekalipun. Kualitas panggilan ini diklaim sudah tersertifikasi Guinness World Records.
Paling menarik ada di Liberty 5 Pro Max. Casing pengisian dayanya dilengkapi layar AMOLED 1,78 inci, dan di situlah fitur AI Note-Taker berjalan: merekam rapat, menghasilkan transkrip otomatis, hingga merangkum poin-poin penting, semua sepenuhnya di dalam perangkat tanpa koneksi internet atau cloud. Privasi by design, bukan sekadar klaim.
Kedua produk ini ditargetkan hadir di Indonesia pada Juni 2026, tepat saat kampanye Anker Day Indonesia berlangsung hingga 30 Juni. Untuk pasar lokal, Anker Indonesia menggelar kompetisi media sosial "Share The Story" di Instagram, TikTok, dan Threads dengan hadiah 50 unit charger Anker Digital Display 140W senilai Rp 999.000 per unit. Ada pula promo offline dengan hadiah langsung power bank senilai Rp 499.000 untuk pembelian minimum Rp 1,5 juta di toko resmi, serta beberapa paket bundling online yang agaknya dirancang untuk mendorong cross-selling ekosistem pengisian daya Anker.
Dari power bank ultratipis 4.500 mAh yang dirilis 2012 ke chip AI proprietary di 2026, lompatan Anker memang bukan perkara kecil. Rekam jejaknya konsisten: adopsi GaN pada 2018, charger 240W pada 2023, GaNPrime 2.0 tahun lalu. Kini mereka bermain jauh lebih dalam, ke ranah semikonduktor. Apakah THUS akan mengubah standar industri audio secara nyata, atau sekadar diferensiasi marketing yang kencang di press release? Kalau data teknis ini bisa dipercaya, setidaknya fundamen arsitekturnya terasa serius. Pasar yang akan menjawab.