Dunia sedang bayar harga mahal untuk obsesi kolektifnya terhadap AI. Yang paling merasakan dampaknya justru konsumen biasa yang sekadar ingin beli laptop atau ganti ponsel.
Chip memori kini diperebutkan habis-habisan oleh perusahaan teknologi besar demi mengisi pusat data AI mereka. Konsekuensinya langsung terasa di rak-rak toko elektronik: pasokan chip untuk perangkat konsumen menyusut, harga naik, dan spesifikasi yang ditawarkan pun ikut melorot.
Sejumlah produsen laptop berbasis Windows kini diam-diam menurunkan kapasitas RAM dari 16 GB menjadi 8 GB tanpa mengubah banderol harga. Konsumen membayar jumlah yang sama, tapi mendapatkan mesin yang secara teknis lebih lemot. Bukan diskon tersembunyi. Ini pengurangan nilai yang dikemas rapi.
Angkanya tidak kecil. Berdasarkan data Pricewatch dari Tweakers, situs teknologi Belanda, kenaikan harga berkisar antara 50 euro hingga 200 euro tergantung kapasitas memori perangkat. Samsung Galaxy A terbaru dijual sekitar 50 euro lebih mahal dari seri sebelumnya meski spesifikasinya hampir identik. PlayStation 5 sudah naik sekitar 100 euro sejak awal tahun. Microsoft pun ikut mengumumkan kenaikan harga Xbox sebesar 50 euro untuk pasar Belanda mulai Agustus mendatang.
"Kami sebenarnya sudah terbiasa melihat harga perangkat elektronik terus turun," kata Tomas Hochstenbach dari Tweakers. "Kemungkinan besar, perangkat yang Anda beli sekarang justru memiliki spesifikasi lebih rendah dibandingkan perangkat yang tersedia setahun lalu."
Apple pun tak luput. Merek yang biasanya mempertahankan lini produknya lebih lama sebelum merilis pembaruan itu menaikkan harga laptopnya setidaknya 100 euro bulan lalu. Bagi produsen yang selama ini dikenal menjaga konsistensi harga sebagai bagian dari positioning premiumnya, langkah ini cukup mencolok.
Tekanan ini bukan fenomena sesaat, kalau data Micron bisa dipercaya. Salah satu produsen chip memori terbesar di dunia itu memperkirakan kendala pasokan masih akan berlanjut setidaknya hingga 2028. Empat tahun lagi. Siapa pun yang berencana mengganti perangkat dalam rentang waktu itu perlu mempertimbangkan ulang kalkulasi anggarannya.
Pertanyaannya, siapa yang paling babak belur? Data pengiriman smartphone global menunjukkan tren yang cukup suram, dengan volume pengiriman turun ke titik terendah dalam 13 tahun terakhir. Kombinasi kenaikan harga dan konsumen yang menahan diri untuk upgrade jadi faktor utamanya. Dari segelintir pemain yang masih mencatat pengiriman positif di kuartal kedua 2026, hanya Samsung dan Apple yang bertahan, sementara vendor tier menengah menanggung beban paling berat.
Ironis, sebetulnya. Konsumen yang ingin menikmati fitur AI di perangkat mereka justru harus merogoh kocek lebih dalam karena permintaan AI itu sendiri yang membuat chip jadi barang langka. Lingkaran yang tidak terlalu menyenangkan buat dompet.