Kunjungan satu dekade sekali itu ternyata tidak pulang tangan kosong.
Cheng Li-wun, Ketua Partai Kuomintang (KMT) Taiwan, mengakhiri perjalanan langkanya ke China daratan dengan sebuah daftar: 10 langkah konkret yang dirilis Beijing untuk "mendorong perkembangan damai hubungan lintas selat dan meningkatkan kesejahteraan warga negara." Pengumuman itu keluar pada hari terakhir kunjungan delegasi KMT, Minggu (13/4/2026), seolah dirancang sebagai hadiah perpisahan yang punya bobot diplomatik.
Cheng adalah ketua KMT pertama yang menginjakkan kaki di China dalam sepuluh tahun terakhir. Bukan perjalanan tanpa risiko. Di dalam negeri ia sudah dihujam kritik dari berbagai pihak yang menudingnya terlalu condong ke Beijing.
Dari 10 langkah itu, beberapa cukup berat secara simbolik. Kantor Urusan Taiwan (TAO) Beijing menyatakan akan mendorong dimulainya kembali program perjalanan individu ke Taiwan bagi penduduk Shanghai dan Provinsi Fujian, skema yang sempat terhenti bertahun-tahun. Beijing juga akan mengupayakan pengaktifan kembali penerbangan langsung antara Taiwan dan sejumlah kota besar: Urumqi, Xi'an, Harbin, Kunming, dan Lanzhou. Satu lagi yang agaknya paling bernuansa budaya: China mengizinkan impor drama, dokumenter, dan animasi Taiwan, dengan syarat kontennya "berorientasi dengan benar, bermanfaat, dan berkualitas tinggi."
Framing dari Beijing jelas. Tapi pemerintah Taiwan tidak menelannya mentah-mentah.
Juru bicara kepresidenan Taiwan, Karen Kuo, merespons dengan nada skeptis. Sebagian besar langkah itu, ujarnya, sudah berkali-kali dibuka dan ditutup sesuai kepentingan Beijing. Tanpa mekanisme pasar yang jelas atau norma internasional sebagai pijakan, keberlangsungannya pun dipertanyakan. "Seperti di masa lalu, China sekali lagi gagal mengikuti saluran yang ada untuk bernegosiasi dengan pemerintah kami," kata Kuo. "Akankah China, kali ini lagi, memperlakukan urusan lintas selat sebagai alat pemaksaan ekonomi dan mengulangi trik lamanya?" tambahnya.
Kalimat yang tajam, dan bukan tanpa dasar sejarah.
Dua hari sebelum pengumuman itu, Cheng sudah duduk berhadapan langsung dengan Presiden Xi Jinping di Beijing. Xi menyampaikan empat usulan untuk mempererat hubungan lintas selat: memperkuat ikatan lewat pemahaman identitas bersama, menjaga "tanah air bersama" melalui pembangunan damai, meningkatkan kesejahteraan lewat pertukaran dan integrasi, serta bekerja sama demi kebangkitan nasional. Kata yang berulang kali muncul dalam pertemuan itu, menurut laporan CGTN: "satu keluarga."
"Hubungan yang lebih erat di Selat Taiwan adalah tanggung jawab yang selalu melekat pada CPC dan KMT," kata Xi, menegaskan posisi Beijing bahwa reunifikasi bukan sekadar wacana, melainkan agenda aktif.
Cheng menggemakan nada itu. Ia menyerukan generasi muda untuk "menghindari perang" dengan menolak kemerdekaan Taiwan. Posisi yang memang selaras dengan platform KMT, tapi cukup panas di dalam negeri.
Dari sisi angka, pertukaran dua arah lintas selat memang sudah mulai menggeliat. Sepanjang 2025, jumlah kunjungan dari dan menuju kedua wilayah melampaui lima juta. Tertinggi dalam enam tahun. Ini didorong sejumlah insentif, termasuk pembebasan biaya bagi warga Taiwan yang pertama kali berkunjung ke daratan, serta perluasan titik penerbitan izin hingga 100 lokasi.
Kedua pihak juga kembali menegaskan Konsensus 1992 sebagai fondasi bersama: pengakuan bahwa keduanya adalah bagian dari satu China, meski masing-masing tetap berpegang pada interpretasinya sendiri.
Wakil Ketua KMT Chang Jung-kung menyebut 10 langkah Beijing sebagai "dorongan signifikan bagi perkembangan damai hubungan lintas selat" yang sangat sesuai harapan berbagai sektor di Taiwan. Xu Xiaoquan, peneliti dari Institute of Taiwan Studies di Chinese Academy of Social Sciences, menilai kunjungan Cheng mencerminkan keinginan kuat masyarakat Taiwan untuk memperluas kerja sama.
Yang belum bergeser: tekanan militer Beijing di sekitar Taiwan terus berjalan paralel. Pengerahan jet tempur dan kapal perang hampir setiap hari, ditambah latihan skala besar secara berkala. Gestur damai di meja, manuver militer di lapangan. Dua pesan yang, entah kebetulan atau tidak, selalu dikirim bersamaan. Bak pedang bermata dua yang sudah lama dikenal siapapun yang mencermati dinamika selat ini.