RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Cadev RI Tembus US$146 Miliar, BI Tetap Kasih Peri...

Ekonomi

Cadev RI Tembus US$146 Miliar, BI Tetap Kasih Peringatan

Cadangan devisa Indonesia naik ke US$146 miliar per Agustus 2026, ditopang derasnya aliran dana asing ke SBN dan SRBI. Tapi Gubernur BI Destry Damayanti mengingatkan: menjaga rupiah butuh lebih dari sekadar brankas yang tebal.

BI Buka-bukaan: USD 146 Miliar Cadev Belum Cukup untuk Menjamin Rupiah Stabil

Cadangan devisa Indonesia tercatat US$146 miliar per akhir Agustus 2026, naik tipis dari US$145,3 miliar pada Juli. Kenaikannya memang tidak dramatis, tapi arahnya benar dan angka ini memberi ruang napas yang tidak kecil bagi otoritas moneter yang tengah menghadapi kondisi global serba tidak pasti.

Sumber utama kenaikan datang dari investasi portofolio. Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyebut aliran dana asing yang masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sepanjang tahun ini sudah di kisaran US$10-11 miliar. "Kita melihat ada inflow masuk cukup besar, khususnya masih di dua instrumen yaitu SBN dan SRBI. Dimana ini total dari dua instrumen ini di kisaran US$10-11 miliar," terang Destry dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2026 di Hotel Indonesia Kempinski, Kamis (3/9/2026). Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.

Tapi Destry tidak menutupi bahwa situasinya belum sepenuhnya bersih. Tekanan di pasar saham masih ada, arus modal asing yang keluar belum seimbang dengan masuknya dana di instrumen surat utang. Kondisi itu yang mendorong BI memperluas insentif untuk menarik lebih banyak modal lewat jalur lain.

Salah satu langkah konkretnya: perluasan transaksi swap lindung nilai. Mulai pekan kedua September 2026, potongan premi hedging sebesar 12,5% tidak lagi hanya berlaku untuk arus modal portofolio, tetapi juga mencakup pinjaman luar negeri perbankan dan foreign direct investment yang masuk sejak 1 Juli 2026. Kontrak berjangka maksimal 12 bulan, bisa di-rollover, masa kontrak hingga tiga tahun. "Yang kami lakukan sekarang, hedging cost kita turunkan, tanpa kita mengurangi BI-Rate, tanpa juga kita menaikkan SRBI, tetapi kita memberikan hedging cost," pungkas Destry. Strategi yang agaknya dirancang untuk menarik modal tanpa menggeser stance kebijakan moneter utama.

LCT juga terus didorong. BI memperkuat skema Local Currency Transaction khususnya dengan Cina dan Jepang, dua mitra dagang terbesar yang selama ini masih dominan bertransaksi dalam dolar. "Kita mengeluarkan LCT udah pasti, kita akan dorong terus, karena trennya terus naik, dan khususnya dari Cina dan Jepang," kata Destry. Ini bagian dari strategi jangka panjang mengurangi ketergantungan terhadap dolar dalam transaksi bilateral.

Ada pesan lebih besar di balik semua angka ini. Destry cukup blak-blakan: cadangan devisa yang tebal bukan jaminan rupiah stabil selamanya. Intervensi bisa meredam gejolak jangka pendek, tapi ada batasnya. Kalau tekanan berlangsung panjang sementara inflow tidak cukup deras, bantalan devisa akan terus tergerus. Inflow yang berkelanjutan, bukan stockpile dolar di brankas, itulah yang lebih menentukan. Beda tipis, tapi implikasinya jauh.

Fondasi eksternal Indonesia saat ini jauh lebih solid dibanding beberapa tahun silam. US$146 miliar setara pembiayaan lebih dari enam bulan impor, jauh melampaui ambang kecukupan internasional. Tapi pasar tidak bekerja berdasarkan rasio teknis semata. Investor asing butuh alasan untuk tetap menaruh dananya di sini: prospek pertumbuhan yang kredibel, imbal hasil kompetitif, dan kepastian kebijakan.

Bagi investor ritel, sinyal dari BI punya implikasi langsung. Selama dana asing ke SBN dan SRBI tetap deras, tekanan terhadap rupiah relatif terkendali dan yield obligasi cenderung stabil. Tapi kalau sentimen global memburuk dan modal asing mulai keluar? US$146 miliar itu bisa menyusut lebih cepat dari yang dibayangkan.