SABTU, 17 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Cadev RI Susut 6,5% sejak Akhir 2025, Guncangan MS...

Ekonomi

Cadev RI Susut 6,5% sejak Akhir 2025, Guncangan MSCI Bikin Pasar Kalut

Cadangan devisa Indonesia tercatat US$146,3 miliar per akhir September 2026, susut US$10,2 miliar sejak Desember 2025. Guncangan bertambah setelah MSCI mempertimbangkan penurunan status pasar modal RI ke Standalone Market.

Ekonom Beber Penyebab Cadev RI Turun 6,5% sejak Akhir 2025 - Market

Sepanjang tahun 2026, cadangan devisa Indonesia sudah terkuras US$10,2 miliar. Bukan angka kecil, dan konteksnya kini semakin berat.

Per akhir September 2026, Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa sebesar US$146,3 miliar, turun US$0,2 miliar dari posisi Agustus yang sebesar US$146,5 miliar. Bulanan, penurunannya memang terlihat jinak. Tapi dihitung dari Desember 2025 yang menyentuh US$156,47 miliar, susutnya sudah 6,5%. Tren yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyebut penurunan ini mencerminkan tekanan yang menguat di sektor eksternal, dipicu kombinasi pelemahan rupiah, pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo, serta kebutuhan stabilisasi nilai tukar. Khusus di September, investasi portofolio asing mencatat arus keluar bersih sekitar US$0,83 miliar. Saham menjadi jalur pelarian terbesar: US$0,57 miliar, diikuti SRBI sebesar US$0,24 miliar. Josua mengingatkan bahwa penurunan cadev tidak bisa langsung disamakan dengan skala intervensi BI, karena ada penerimaan pinjaman luar negeri pemerintah dan penerimaan pajak yang juga ikut menopang angka tersebut.

Secara teknis, posisi cadev saat ini setara dengan 5,3 bulan impor, atau sekitar 5,2 bulan kalau ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah. Standar kecukupan internasional ada di angka 3 bulan impor, jadi secara rasio Indonesia masih jauh di atas ambang bahaya. Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif CORE Indonesia, bahkan menyebut angka itu mendekati enam bulan pembiayaan impor. Masih kuat, setidaknya di atas kertas.

Tapi angka-angka itu tidak otomatis membuat pasar tenang.

Jumat, 16 Oktober 2026. Guncangan datang berlapis. MSCI mengumumkan sedang mempertimbangkan penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market, sinyal yang langsung dipersepsikan sebagai risiko sistemis oleh investor institusi asing. Reaksi pasar tidak tanggung-tanggung: IHSG sempat amblas hingga 11% dan memicu trading halt berkali-kali, dengan level terendah menyentuh 5.193. Rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS, baik di pasar spot maupun offshore. Yield surat utang negara tenor 10 tahun melonjak ke 7,35%, seiring aksi lepas di seluruh tenor.

BI bergerak cepat. Erwin Gunawan Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, menyatakan arus keluar dari aset portofolio domestik diperkirakan masih akan berlanjut seiring meningkatnya sentimen risk-off global yang mendorong penguatan dolar AS. Intervensi dilakukan lewat beberapa jalur sekaligus: transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan domestic NDF (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder. Meski begitu, secara quarter-to-date pelemahan rupiah masih tercatat relatif terbatas di 0,28%, sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan.

Faisal dari CORE memperingatkan hal yang agaknya paling krusial. Gejolak ini, katanya, tidak boleh dibiarkan berlarut. "Jangan sampai kemudian ini juga lambat dalam menanganinya karena bisa jadi berterusan. Artinya berterusan dampaknya kalau tidak ditanggapi dengan baik," tegasnya. Ia menekankan perlunya konsolidasi cepat antara pemerintah, OJK, dan BEI untuk menindaklanjuti catatan MSCI soal tata kelola dan transparansi pasar modal.

Di balik tekanan jangka pendek, ada persoalan struktural yang sudah lama bercokol. Struktur ekspor Indonesia masih dihajar ketergantungan pada komoditas primer seperti batu bara, CPO, dan produk tambang, membuat pasokan devisa sangat rentan terhadap siklus harga global. Fenomena devisa hasil ekspor yang tidak kembali ke sistem perbankan domestik, lebih memilih parkir di pusat keuangan seperti Singapura, juga terus menjadi kebocoran yang sulit ditambal. Kalkulasinya tidak menggembirakan: investor asing mencatat net sell Rp81,04 triliun di saham sepanjang 2026, sementara net buy di SBN hanya Rp28,8 triliun.

Harga minyak mentah yang tembus US$100 per barel menambah beban kebutuhan devisa impor energi. Yield US Treasury yang tetap tinggi membuat aset berdenominasi dolar masih kompetitif di mata investor global. Dua faktor itu, ditambah ketegangan geopolitik yang belum mereda, membentuk tekanan eksternal yang tidak mudah dilawan dengan instrumen domestik semata. Pertanyaannya, berapa lama bantalan ini masih bisa menahan?

Cadev US$146,3 miliar memang bukan angka yang patut diremehkan. Tapi kalau tren penyusutan ini berlanjut tanpa respons struktural yang berarti, pertanyaannya bukan lagi "apakah cukup" melainkan "sampai kapan cukup".