SENIN, 19 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Cadev RI Agustus 2026 Tembus US$146 Miliar, SBN da...

Ekonomi

Cadev RI Agustus 2026 Tembus US$146 Miliar, SBN dan SRBI Jadi Magnet Asing

Cadangan devisa Indonesia naik tipis ke US$146 miliar per akhir Agustus 2026, ditopang arus masuk portofolio asing ke SBN dan SRBI yang secara kumulatif mencapai US$10-11 miliar ytd.

Cadangan Devisa RI Naik Jadi 146 Miliar Dollar AS, Ditopang Arus Modal Masuk

Cadangan devisa Indonesia akhir Agustus 2026 tercatat US$146 miliar, naik dari US$145,3 miliar pada Juli. Tipis, memang. Tapi cukup berarti kalau kita lihat tekanan eksternal yang tidak juga mereda sepanjang bulan lalu.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyebut penopang utamanya adalah derasnya arus dana portofolio asing ke Surat Berharga Negara dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia. Secara kumulatif, inflow ke dua instrumen itu sudah menyentuh US$10 miliar hingga US$11 miliar sepanjang tahun berjalan. Angka yang tidak main-main, terutama ketika ketidakpastian suku bunga global masih menggantung.

Katalisnya, menurut Destry, adalah repricing. Penyesuaian yield SBN dan SRBI membuat daya tarik aset domestik kembali kompetitif di mata investor asing. "Kita beruntung masih ada. Kalau kita lihat dana portofolio dengan adanya repricing, jadi adjustment harga yang dilakukan, termasuk SBN, yield-nya melakukan penyesuaian, SRBI juga melakukan penyesuaian," ujarnya dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Namun ada catatan yang agaknya lebih penting dari sekadar angka cadev: BI mengakui pasar saham masih jadi pekerjaan rumah. Berbeda dengan SBN dan SRBI yang sudah kebanjiran dana asing, perdagangan saham saat ini banyak ditopang investor domestik, termasuk sekitar 30 juta investor ritel. Basis lokal yang besar bisa jadi kekuatan, tapi juga celah kalau sentimen dalam negeri ikut goyah.

Untuk menambal celah itu, BI menjalankan beberapa pendekatan sekaligus. Salah satunya mendorong transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction, khususnya dengan China dan Jepang, yang tren penggunaannya terus meningkat. BI juga memangkas biaya lindung nilai sebagai insentif bagi investor asing, tanpa harus menyentuh BI Rate maupun menaikkan imbal hasil SRBI. "Hedging cost kita turunkan tanpa kita mengurangi BI rate, kita ubah. Tanpa juga kita menaikkan SRBI, tapi kita memberikan hedging cost," tegas Destry.

Logika di balik strategi ini cukup lurus: investor asing biasanya masuk lewat jalur portofolio dulu, baru kemudian bergerak ke sektor riil kalau kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia sudah cukup kuat. BI, entah kebetulan atau tidak, sedang menyiapkan jalur masuk itu selebar mungkin. "Once mereka sudah makin yakin, bisa mulai masuk ke sektor riilnya," kata Destry.

Destry juga mengingatkan hal yang sering luput dari perhatian publik. Menjaga kurs rupiah tidak bisa hanya mengandalkan intervensi di pasar valas. Kalau BI terus-terusan menyedot cadangan untuk intervensi, posisi cadev yang kini tampak nyaman bisa tergerus lebih cepat dari perkiraan. Karena itulah daya tarik aset keuangan domestik harus dijaga, supaya rupiah terstabilkan dari sisi supply-demand secara organik, bukan dari laci cadangan devisa.

US$146 miliar. Dengan posisi itu, Indonesia masih berada di kisaran yang cukup untuk membiayai lebih dari enam bulan impor, jauh di atas ambang kecukupan internasional. Pertanyaannya bukan soal cukup atau tidak. Pertanyaannya: seberapa lama komposisi inflow yang sehat ini bisa bertahan kalau The Fed kembali bicara hawkish?